Ilustrasi Beda (foto: http://brittonthagard.com)

Tentang Beda

Foto: http://brittonthagard.com


BertuturCom
 – Bicara beda, saya selalu teringat salah satu bagian di buku Stellaluna:

“How can we be so different and feel so much alike?” one asks. “And how can we feel so different and be so much alike?” asks another. 

Bagaimana kita bisa begitu beda, tapi merasakan hal yang begitu sama? Bagaimana kita merasakan hal yang begitu beda, tapi bisa begitu sama?

Rangkaian tanya tentang beda dan sama itu sendiri mengacu kisah si Stellaluna, seekor kalelawar betina yang diadopsi keluarga burung, saat terpisah dari keluarganya yang diserang burung hantu. Induk burung bersedia merawat Stella selama dia berperilaku layaknya burung.

Tapi insting Stella sebagai kelelawar tidak bisa diubah. Dia nokturnal yang beraktivitas di malam hari. Dia menclok dan menggantungkan kepalanya menghadap bawah saat tidur di siang hari. Justru kebiasaan ini pula yang menyebabkan dia menemukan kembali keluarga kalelawarnya.

Meski begitu, Stella tetap berhubungan baik dengan tiga saudara tiri yang berlainan spesies itu. Karena menganggap kehidupan Stella menarik, tiga burung itu, Pip, Flitter dan Flap, kemudian mencoba untuk hidup seperti Stella.

Meski kemudian mereka akhirnya sadar, bahwa mereka begitu BEDA. Tapi PERASAAN yang mereka punya tetap SAMA. Perasaan yang sama itu yang kemudian menjadikan mereka tetap saudara.

Absurd

Buku Stellaluna yang ditulis Janel Cannon dan terbit pada 1993 itu sering dianggap sebagai cara paling menarik untuk memperkenalkan konsep “beda” kepada anak-anak. Tak heran kalau kemudian, atas usulan sejumlah asosoasi edukasi, buku itu jadi semacam “bacaan wajib” untuk anak yang baru belajar membaca. Gambarannya, untuk anak seusia Lucy Dawson saat pertama kali diajarkan membaca di film I am Sam.

Melihat konteks Amerika Serikat yang penuh dengan sejarah kekerasan berbasis prasangka rasial, buku itu memang menjadi analogi yang tepat untuk menghargai perbedaan, terutama beda yang terlihat secara fisik.

Terlepas dari itu, dalam pengembangannya, guru bisa juga menjelaskan bahwa Stella dan tiga saudaranya bisa punya perasaan yang sama, meski beda spesies. Tentu lebih mudah bagi manusia untuk menghargai beda yang terlihat secara fisik, tapi masih punya persamaan asasi: sama-sama manusia.

Tapi mungkin Stellaluna sulit untuk menanamkan pemahaman akan beda yang lebih absurd, misalnya saja beda agama, beda ideologi, beda pemahaman budaya dan beda absurd lainnya.

Memang lebih sulit untuk memberi pemahaman tentang beda yang lahir dari pernyataan pikiran, state of mind.

Konstruksi sosial di masyarakat pun menjadikan beda sebagai liyan yang membuat jarak, “yang lain” yang membuat jurang interaksi.

Seorang jawa yang berkulit kuning langsat pada awalnya bisa berinteraksi dengan seorang jawa lain yang juga kuning langsat. Tapi jarak bisa muncul ketika tahu bahwa agama si jawa yang satu beda dengan jawa yang lain.

Seorang padang yang berkulit terang bisa saja membuat jarak di awal interaksi dengan seorang papua yang berkulit gelap. Tapi saat si padang memahami bahwa si papua itu punya agama yang sama, jarak yang muncul di awal interaksi bisa saja hilang.

Dengan demikian, apa yang digambarkan dalam Stellaluna memang terlihat lebih sederhana ketimbang hal-hal kompleks yang terjadi di masyarakat: Ada BEDA yang tak terlihat mata, yang menjadikan antarmanusia lebih berjarak. Ada beda yang tak bisa dijangkau empat indra lainnya yang menjadikan antarmanusia penuh prasangka. Tapi ada PERASAAN yang SAMA pula yang menjadikan manusia bisa begitu dekat.

Sialnya, mereka yang terjalin dalam absurditas yang SAMA itu banyak yang ingin memperkuat kesamaan, yang tentunya malah memperbesar perbedaan. Mereka melarang”yang sama” berhubungan dengan “yang beda”. Mereka melarang “yang sama” untuk menyerupai sesuatu “yang beda”. Mereka melarang “yang sama” untuk merayakan sesuatu bersama “yang beda”.

Hingga pada titik ekstrem, mereka “yang sama” ingin membentuk negara hanya untuk mereka “yang sama”. Mereka “yang sama” ingin berlandaskan aturan hukum dengan menegasikan “yang beda”.

Namun, berbagai kompleksitas tentang absurditas beda itu tetap bersumber dari pikiran. Mungkin ini cuma perkara manusia yang terlalu ingin pusing dengan pikirannya sendiri. Bisa jadi banyak hal yang sebenarnya lebih sederhana ketimbang mempermasalahkan beda.

Seperti yang diungkap Pip, Flitter dan Flap, semua bersumber dari apa yang kita rasakan. Kita hanya perlu menumbuhkan rasa yang menimbulkan damai: cinta, kasih, sayang, guyub, rukun, toleransi, dan hal-hal lain yang sering dianggap picisan, padahal punya kekuatan luar biasa untuk mencegah BEDA menjadikan kita saling bunuh hingga binasa. (Rawabelong, Maret 2015)

Diambil dari: bayugalih.blogspot.com

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments