Susan Sarandon: Feminis itu Kuno

Susan Sarandon: Feminis itu Kuno Selebriti dan Feminisme

Susan Sarandon (foto: Guardian.com/Getty Images)

BertuturCom – Jurnalis dan penulis perempuan Jessica Grose tampaknya gerah dengan pemberitaan mengenai selebriti dan feminisme. Dalam artikel yang ditulis untuk Elle.com, Grose meminta media tidak lagi bertanya kepada selebriti, terutama perempuan, apakah mereka seorang feminis. Pertanyaan ini dianggap jebakan, yang terkadang malah digunakan untuk meledek jawaban selebriti. 

Hal ini juga dialami bintang Divergent, Shailene Woodley. Jawaban Woodley yang mengaku bukan feminis karena masih membutuhkan laki-laki spontan menuai kritikan. Woodley pun diminta untuk memahami arti feminisme. (Baca juga: Shailene Woodley: Feminisme Itu Label yang Mendiskriminasi)

Tapi tidak semua selebriti memberikan jawaban yang menjadikannya bahan ledekan. Aktris senior Susan Sarandon memberikan jawaban mencengangkan ketika diwawancara oleh wartawan Guardian, Elizabeth Day, tahun lalu.

Saat Elizabeth Day bertanya, “apakah Sarandon menyebut dirinya feminis?”, perempuan berusia 68 tahun itu menjawab, dia merupakan seorang humanis.

“Karena humanis tidak membuat kita terasing dibandingkan feminisme yang dianggap oleh masyarakat sebagai sekumpulan perempuan jalang berteriak menuntut upah, hak, pendidikan, dan layanan kesehatan yang sama,” tutur Sarandon.

Peraih Oscar pada 1995 lewat Dead Man Walking ini pun bahkan menyatakan menyebutkan feminisme merupakan istilah yang kuno dan digunakan lebih sering untuk mengecilkan peran orang. Dia pun mencontohkan putrinya, Eva Amauri, tidak ingin dikaitkan dengan istilah ‘feminis’. “Tapi, dia memiliki kendali ketika membuat keputusan dan terkait tubuhnya,” kata Sarandon.

Namun, siapa yang berani mencemooh Sarandon atas pernyataannya? Sarandon merupakan aktris yang tidak pernah terpikir akan menyingkirkan label feminis yang selama ini melekat. Dia kerap menyuarakan hak-hak perempuan, seperti hak untuk memilih kandidat politik dan hak asasi manusia. Dia juga seorang humanitarian.

Pada 2006, Sarandon menerima penghargaan humanitarian dari Action Against Hunger, sebuah lembaga internasional yang bertujuan mengakhiri kelaparan. Dia juga menjadi Duta UNICEF yang mengadvokasi korban kelaparan dan penderita HIV/AIDS.

Sepanjang karirnya, Sarandon juga sering memainkan karakter perempuan yang kuat. Tapi Sarandon tidak melihatnya demikian. Seperti peran Louise Sawyer di film Thelma and Louise, misalnya, Sarandon menilai karakter Louise menjadi kuat justru ketika melawan nervous breakdown. Penyakit mental ini memang menyulitkan Louise yang mengakibatkannya menembak mati seorang lelaki yang berusaha memerkosa Thelma.

Begitu juga di film Dead Man Walking. Suster Helen, karakter yang dimainkan Sarandon, bukan sosok yang terlihat dominan. Namun, ketika peran dan perasaannya jauh terlibat saat terdakwa hukuman mati Matthew Poncelet meminta bantuannya sebelum eksekusi, saat itulah ‘kekuatannya’ terlihat.

“Suster Helen tidak muncul dengan menembakkan senapan-senapan besar di puncak cerita, tapi kekuatannya terlihat saat dia semakin terlibat lebih dalam dan lebih dalam. Sepintas, memang terlihat sebagai perempuan yang kuat.” (ann)

The following two tabs change content below.
napuspita@gmail.com'

Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.

Comments

comments