Panen raya Soeharto

Politik Beras ala Soeharto Politik Pangan

Foto diambil dari Proliman.com

BertuturCom – Ada satu warisan unik dari presiden Soeharto. Warisan ini bukan tanah, bangunan, apalagi uang. Namanya juga warisan unik, tentu beda dari biasanya. Warisan ini berupa gaya atau kebiasaan yang selalu dilakukan Soeharto. Kenapa saya sebut warisan? Karena gaya atau kebiasaan Soeharto yang satu ini dilakukan juga oleh beberapa presiden Indonesia berikutnya.

Entah apa istilah yang tepat, tapi saya namai saja warisan unik itu dengan ‘panen simbolis’. Ini sebuah ritual yang Soeharto banget. Soeharto mengenakan kemeja safari dan memakai caping atau topi khas petani di kepalanya. Dia berdiri di tengah sawah, memotong padi, lalu mengangkatnya menggunakan tangan.

Di sebelah kiri dan kanan Soeharto biasanya ada pejabat yang melakukan gerak gerik serupa dengan Sang Bapak Pembangunan itu. Soeharto dan para pejabat tinggi itu pun berjajar sambil mengangkat segenggam batang padi. Jepretan kamera analog wartawan yang berada di seberangnya saling bersahutan.

Jangan anggap enteng adegan ini. Saya bisa katakan, ini adegan yang paling fenomenal di masa Orde Baru. Konon, tak lama setelah adegan ‘panen simbolis’ Soeharto ini menyebar di media massa, suara Golongan Karya meningkat tajam, khususnya di daerah-daerah yang banyak dihuni kaum tani. Inilah politik beras!

Saya sebut ‘konon’ karena tak punya referensi jelas soal itu, hanya cerita dari segelintir orang dan bahan bacaan yang sudah lupa dari mana saya baca. Tapi, kepedulian Soeharto terhadap urusan beras sepertinya tak perlu banyak referensi. Semua orang sudah mengetahuinya.

Pelajaran dari Soeharto

Beras lah yang membuat popularitas Soeharto meroket. Beras pula yang membuat Soeharto jatuh. Tidak percaya? Mari kita kilas balik sebentar saja. Prioritas pertama Soeharto setelah menduduki kursi presiden adalah meningkatkan produksi beras. Semua kebijakan pertanian berada langsung di bawah dirinya.

Bina Graha, kantor Soeharto menjalankan pekerjaan sehari-hari, menerima laporan harga pangan, termasuk beras, dua kali dalam sehari! Soeharto tidak ingin main-main soal kondisi di lapangan. Dia marah besar kalau ada laporan ‘asal bapak senang’ alias ABS. Untuk mencegah hal itu, Soeharto ‘menanam’ petugas intelijen di Departemen Pertanian.

Singkat cerita, produksi beras melambung, pangan tercukupi, petani menikmati harga jual padi, lalu swasembada pangan tercapai 1983. Di awal 1990-an, industri mulai jadi ‘anak emas’. Produksi beras menurun. Ini diperparah dengan terjadinya el-nino pada 1997. Kontrol pemerintah makin minim.

Saya beruntung bisa mengikuti kuliah Prof Peter Timmer, guru besar studi pembangunan Universitas Harvard, di Konferensi Internasional Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) di Bogor pada 28 Agustus 2014 kemarin. Dari dia lah saya tahu, akar penyebab kejatuhan Soeharto adalah produksi beras yang anjlok dan harga beras yang naik tajam. Krisis moneter, demonstrasi, kerusuhan, dan lain-lain hanyalah efek lanjutan dari persoalan beras itu tadi.

Tentang Soeharto cukup sampai di sini. Saya lanjut ke presiden-presiden berikutnya yang ternyata gemar pula melakukan ‘panen simbolis’ di tengah sawah. Adegannya nyaris sama persis. Malah adegan ini mulai mewabah ke menteri-menteri. Menteri yang tidak membidangi pertanian secara langsung pun kadang ikut berpanen ria dan berfoto di tengah sawah.

Zaman telah berubah
Begitulah. Tidak pernah ada ganti adegan sejak 1970-an. Pertanian masih digambarkan berupa sawah, padi, petani, dan desa. Apa mungkin ini yang menjadi penyebab pertanian belum ada kemajuan signifikan? Entah, yang jelas, para pejabat tinggi yang gemar ‘panen simbolis’ masih memberi simbol pertanian dengan sawah.

Sekarang saya akan berbagi angka. Pertumbuhan ekonomi di Asia naik pesat dan kelas menengah meningkat. Urbanisasi terjadi hampir di negara-negara Asia. Populasi masyarakat perkotaan atau urban mencapai 44 persen pada 2010 dan akan menjadi 56 persen di 2030.

Mayoritas pasar produk pangan berada di perkotaan. Sebanyak 65-75 persen belanja pangan berada di perkotaan. Dari total pengeluaran masyarakat perkotaan untuk pangan, 73 persennya untuk membeli pangan yang sudah diproses. Permintaan pangan selain padi, seperti daging, buah, dan sayur, meningkat hingga 60 persen.

Artinya apa? Titik krusial dalam rantai nilai (value chains) pertanian tidak lagi ada di sawah. Kelas menengah mulai tumbuh. Mereka punya kemampuan membeli, tentu tidak cukup hanya makan padi. Mereka mulai mencicipi steak, sushi, hingga ikan salmon.

Selain itu, permintaan makanan jadi dan instan meningkat. Masyarakat kini tak hanya membeli daging mentah dan ikan segar, tetapi makanan yang tinggal disantap. Distribusi dan pengemasan menjadi hal penting.

Dan, yang lebih penting lagi, produk pangan asing makin deras memasuki Indonesia. Lihat saja, banyak orang yang menggemari beras merah, beras Jepang, hingga beras India. Seperti sudah menjadi gaya hidup. Kelas menengah ini kini melirik pepaya California, meski sebenarnya ditanam di Indonesia.

Bahkan, di sebuah restoran di Ibukota, ada menu minuman kelapa Thailand. Di minum langsung dari buahnya. Alamak, apa Indonesia ini kekurangan pohon kepala? Intinya, diferensiasi dan branding menjadi hal yang tak kalah penting

Jadi, titik penting persoalan pertanian kini tak hanya berada di tingkat farm atau sawah saja. Namun, di era sekarang, mata rantai berikutnya lebih penting. Makanya, saya sedikit sedih kalau ada presiden yang baru dilantik nanti akan ikut ‘panen simbolis’ memakai caping di sawah. Lebih baik berpikir bagaimana caranya berdaulat dalam pangan, Pak.

Menarik sekali ucapan presiden Sukarno yang dikutip Andreas Maryoto dalam Jejak Pangan (2009). Begini kata Sukarno, “Aku harus memberi makanan jiwa rakyatku, tidak saja memberi makan perutnya. Kalau aku menggunakan semua uang untuk membeli beras, mungkin aku dapat memerangi kelaparan mereka. Tapi, tidak. Apabila aku memperoleh uang lima dolar AS, aku harus mengeluarkan 2,5 dolar AS untuk tulang punggungnya. Dan mendidik suatu bangsa adalah sangat kompleks.”

Mungkin hanya Sukarno yang tidak pernah ‘panen simbolis’. Koreksi saya kalau salah.

(sumber foto: proliman.com)

The following two tabs change content below.

Comments

comments