Ilustrasi Musyawarah Kampung (foto: tulane.edu)

Perdebatan Memilih Kepala Kampung

BertuturCom – Tahun ini adalah tahun yang sibuk di sebuah desa di kaki gunung. Nama gunung itu sebut saja Gunung Taman, sedangkan nama desanya adalah Desa Adhara. Desa Adhara menyelenggarakan dua festival tahun ini. Dua festival itu hanya berjarak tiga bulan.

Di akhir tahun, Desa Adhara juga akan melakukan pergantian kepala desa dan para tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat merupakan perwakilan kampung-kampung. Ada 29 kampung di Desa Adhara. Bersama kepala desa, para tokoh masyarakat merumuskan norma yang harus dijalankan oleh masyarakat.

Sebelum masa jabatan berakhir, kepala Desa Adhara mengajukan aturan baru terkait tata cara pemilihan kepala kampung. Kepala desa ingin ada perubahan tata cara pemilihan kepala kampung. Pemilihan kepala kampung tidak dilakukan oleh rakyat, melainkan oleh perwakilan yang ditunjuk.

Alasan kepala desa mengusulkan ini karena pemilihan langsung membutuhkan biaya yang mahal. Pemilihan langsung memunculkan ketegangan di kampung-kampung. Pemilihan langsung menciptakan kerajaan di kampung. Tidak jarang, kekuasaan hanya berpindah dari suami ke istri lalu ke anak.

Usulan ini ditolak oleh para tokoh masyarakat Desa Adhara. Pembahasan pun berlangsung berbulan-bulan agar para tokoh masyarakat mengesahkan norma ini. Memasuki medio Maret tahun ini, pembahasan norma ini harus dihentikan. Pembahasan tata cara ini pun harus dilupakan karena penyelenggaraan dua festival.

Festival lampu bohlam pada bulan April dan festival perahu pada bulan Juli. Rangkaian festival ini selesai pada medio Agustus. Setelah festival rampung, pembahasan tata cara memilih ketua kampung berlanjut. Pembahasan norma ini memang hanya tersisa satu bulan. Kalau gagal menemukan kesepakatan maka pembahasan harus diulang dari awal. Proses yang melelahkan bagi kedua pihak, sebenarnya.

Awal September, kepala desa dan para tokoh masyarakat bertemu. Sebelum pertemuan, kepala desa sudah menyerah untuk memperjuangkan usulannya. Tujuannya, norma ini bisa disahkan sehingga bisa diterapkan ketika pemilihan kepala kampung dilakukan secara serentak mulai tahun depan. Kepala desa sepakat mempertahankan tata cara lama, yaitu pemilihan langsung.

Hal yang mengejutkan, sebagian tokoh masyarakat berubah pandangan. Mereka tidak sepakat dengan pemilihan langsung. Mereka ingin pemilihan kepala kampung dikembalikan pada cara lama, yaitu oleh perwakilan yang ditunjuk. Alasannya, musyawarah untuk mufakat sejalan dengan falsafah desa dibandingkan voting.

Warga desa yang menjadi saksi perdebatan dua pihak ini pun mulai menimbang. Kepala desa mengusulkan perubahan tata cara sudah berdasarkan kajian dan proses yang tidak sebentar. (Sebagian) Tokoh masyarakat hanya butuh waktu lima bulan untuk sepakat dengan perubahan tata cara itu.

Warga desa pun mempertanyakan alasan sebenarnya (sebagian) tokoh masyarakat sepakat dengan usulan pemerintah. Alasan menjalankan falsafah desa tidak bisa diterima, karena sebelumnya mereka ngotot menolak dan menyebabkan pembahasan aturan berlangsung berlarut-larut.

Di sisi lain, kesepakatan (sebagian) tokoh masyarakat ini seharusnya membuka pintu untuk pengesahan norma. Sebab, kepala desa dan (sebagian) tokoh masyarakat sudah sepakat dengan tata cara yang sama: pemilihan kepala kampung lewat perwakilan yang ditunjuk.

Entah dagelan macam apa yang sedang ingin dipertontonkan. Ternyata, tidak mudah mengembalikan kepala desa agar sepakat dengan tata cara yang dia usulkan.

Kepala desa justru berupaya membujuk (sebagian) tokoh masyarakat agar sepakat dengan tata cara lama alias pemilihan langsung. Mungkin hobi kepala desa adalah berbeda pendapat sehingga bisa membujuk orang-orang yang berbeda pendapat agar sependapat.

Bujukan kepala desa berhasil. Namun, kepala desa harus mengorbankan banyak hal. Pertama, kepala desa harus memberikan proyek bendungan ke tokoh-tokoh masyarakat yang berasal dari bagian selatan Desa Adhara.

Tokoh-tokoh masyarakat yang berasal dari bagian bimur desa mendapatkan seluruh proyek pembangunan jembatan. Tokoh dari bagian barat desa memperoleh jabatan lima ketua kampung. Tokoh dari bagian utara mendapatkan hak mengelola uang.

Palu diketok, perdebatan usai.

The following two tabs change content below.
napuspita@gmail.com'

Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.

Comments

comments