Adolf Hitler (foto: wikipedia.org)

Operasi Barbarossa dan Politik Pangan Hitler (I) Politik Pangan

Adolf Hitler/Foto: wikipedia.org

BertuturCom – Saya tidak akan berbicara banyak soal Operasi Barbarossa, apalagi mengupas sepak terjang Adolf Hitler. Biarlah Hitler, NAZI, dan segala derivatnya tetap menjadi kontroversi. Banyak sejarawan yang lebih mengerti dan berkompeten untuk menulis tentang seluk beluk Hitler dan NAZI-nya. 

Saya hanya mengangkat realita unik soal Operasi Barbarossa dan politik pangan yang sedang dijalankan Hitler. Proses terjadinya Operasi Barbarossa sudah banyak diulas di berbagai artikel di dunia maya. Bahkan, tulisan mengenai kronologi hari per hari operasi itu juga sudah banyak beredar. Saya sampaikan garis besarnya saja.

Awalnya begini, Perang Dunia II terjadi di beberapa front sejak 1939. Kubu Jerman dan Uni Soviet terlibat peperangan sengit di sejumlah daerah. Salah satu front pertempuran yang paling mematikan adalah serangan Jerman ke Uni Soviet pada 1941. Serangan ini merupakan salah satu dari aksi militer NAZI yang paling well-prepared alias memiliki perencanaan yang sangat baik.

Aksi militer ini bernama Operasi Barbarossa. Namanya diambil dari salah satu kaisar Jerman di zaman Romawi yang bernama Frederick Barbarossa. Operasi Barbarossa merupakan salah satu operasi militer terbesar dalam sejarah. Terbesar dalam jumlah pasukan dan korban jiwa. Perencanaan Operasi Barbarossa sudah berlangsung sejak 1939 atau hampir dua tahun sebelum serangan. Beberapa rujukan menyebut Operasi Barbarossa sudah direncanakan oleh Hitler sejak 1925.

Mengapa Hitler dan NAZI-nya mempersiapkan operasi ini sejak jauh hari? Operasi Barbarossa merupakan strategi Jerman untuk mempersiapkan masa depannya. Silakan tengok teori Lebensraum yang diusung Hitler dalam buku Mein Kampf hasil karyanya. Saya tidak perlu panjang lebar menjabarkan teori ini. Singkatnya, Lebensraum adalah teori ‘kebutuhan ruang’ untuk hidup bagi masa depan rakyat Jerman, berupa tanah dan segala sumber dayanya.

Untuk mengaplikasikan teori ini, Hitler memperluas kekuasaan ke wilayah timur, yakni wilayah yang dikuasai Uni Soviet. Selama ini, sejarah mencatat, Operasi Barbarossa merupakan perluasan kekuasaan, aksi militer, hingga penjajahan. Namun, banyak kejadian-kejadian kecil yang mengungkap adanya tujuan di luar tiga hal itu. Saya merangkai beberapa peristiwa sebelum Operasi Barbarossa yang memiliki benang merah satu sama lain.

Politik pangan

Jauh sebelum Hitler mengusung Lebensraum, Friedrich Ratzel pada 1901 sudah memperkenalkan konsep mengenai kebutuhan Jerman terhadap ruang untuk hidup. Ratzel merupakan ahli geografi. Dia sadar, Jerman butuh wilayah lain di luar teritorinya untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Pangan hanya bisa diproduksi apabila ada tanah.

Jenderal Prussia, Friedrich von Bernhardi, adalah tokoh pertama yang menunjuk wilayah timur (Uni Sovyet) sebagai ruang untuk hidup bagi rakyat Jerman. Uni Soviet dianggap bisa menjadi lahan untuk memproduksi pangan. Bernhardi menyampaikan ini pada 1912. Dia menganggap perang hanyalah alat semata, tujuan utamanya adalah kebutuhan terhadap bahan pangan.

Teori Lebensraum secara tidak langsung mulai memengaruhi kebijakan politik dan militer NAZI sejak 1925. Keputusan-keputusan politik dan aksi militer NAZI selalu berujung pada Lebensraum. Ini menunjukkan betapa Hitler dan para punggawanya sudah paham betul arti penting tanah sebagai ruang untuk hidup.

Salah satu tahap penting sebelum terjadinya Operasi Barbarossa adalah restrukturasi ekonomi Jerman yang diinisiasi NAZI. Restrukturisasi itu dibungkus dalam program bernama Four Year Plan (1936-1940). Otak dibalik program ini adalah petinggi NAZI, Hermann Goring. Betul, Hermann Goring orang kepercayaan Hitler itu. Inti dari Four Year Plan adalah peningkatan produksi pangan dan proteksi terhadap barang produksi dalam negeri.

Jerman bertekad untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya dari sumber-sumber dalam negeri. Kunci untuk mencapai itu adalah menggenjot produk-produk pertanian. Pemenuhan kebutuhan pangan itu harus tercapai dalam waktu yang singkat, yakni empat tahun. Program ini mendasari setiap keputusan politik hingga militer.

Adanya kesadaran para petinggi Jerman soal kebutuhan pangan sebenarnya bukan hal aneh. Saya yakin tidak banyak yang mengetahui, banyak petinggi NAZI yang juga ahli pertanian. Di luar segala kontroversinya, Goring merupakan salah satu ahli pertanian yang menonjol. Dia selama ini dikenal sebagai perwira tinggi dan ahli taktik perang NAZI, namun dia juga menjadi ‘menteri koordinator’ untuk program-program pertanian Jerman.

Heinrich Himmler, orang nomor satu di Partai NAZI, juga mendalami ilmu pertanian. Ketika Perjanjian Versailles melarang Jerman membangun angkatan perang, Himmler muda meninggalkan barak. Dia lalu masuk ke Fakultas Pertanian di Universitas Teknik Muenchen. Sekali lagi, di luar segala kontroversi Himmler, dia memiliki ilmu yang mumpuni di bidang pertanian dan paham akan penting pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan.

Perwira Schutzstaffel/SS (pasukan khusus NAZI), Richard Darre, barangkali menjadi ahli pertanian terbaik NAZI. Jabatan tertinggi dia adalah menjadi menteri (reichminister) urusan pangan di kabinet Hitler. Dia mendalami ilmu peternakan (animal breeding) di University of Halle. Darre hampir meraih gelar PhD, namun kuliahnya terhenti karena aktivitas politiknya.

Hitler juga paham dengan kebijakan pertanian. Dia besar di sebuah pertanian milik ayahnya. Bahkan, sejak awal berdirinya NAZI, partai ini menyasar kaum petani kecil di Jerman. Para petani lah anggota-anggota awal NAZI.

The following two tabs change content below.

Comments

comments