Pasukan Jerman menuju Soviet (Foto: Bundesarchiv Bild | ww2today.com/)

Operasi Barbarossa dan Politik Pangan Hitler (II) Politik Pangan

Pasukan Jerman menuju Soviet (Foto: Bundesarchiv Bild | ww2today.com/)

BertuturCom – Ada beberapa peristiwa yang terjadi sebelum Operasi Barbarossa. Salah satunya adalah program Four Year Plan, politik pangan pimpinan Hermann Goring yang berisi proyek peningkatan produksi pertanian. Ternyata, proyek ini tidak berjalan sesuai harapan. Masih banyak rakyat Jerman kekurangan pangan. Pasokan makanan untuk tentara Jerman di berbagai front pertempuran juga kian menipis. 

Produksi pertanian dari dalam negeri tidak mengalami kenaikan signifikan. Ini adalah ketakutan Hitler yang sebenarnya. Dia tidak akan rela Jerman tergantung dari pasokan pangan negara lain.

Uni Soviet di mata Jerman adalah sebuah hamparan tanah subur yang bisa memberi kehidupan. Di atas tanah bisa tumbuh tanaman sebagai sumber pangan, sedangkan di dalam tanah terkandung sumber minyak yang bisa menghidupkan mesin-mesin manufaktur. Dengan menguasai Uni Soviet, kebutuhan pangan dan energi Jerman di masa depan sudah aman.

Maka, Hitler menandatangani perintah untuk dimulainya Operasi Barbarossa pada 18 Desember 1940. Padahal, Jerman dan Uni Soviet sudah menandatangani pakta non-agresi pada 1939, namun Operasi Barbarossa tetap berlangsung. Pemimpin Uni Soviet kala itu, Joseph Stalin, rupanya telah mengendus rencana Jerman itu sejak lama. Sehingga, Stalin mengingatkan ‘tentara merah’ Uni Soviet agar bersiap menghadapi serangan Jerman yang bisa terjadi kapan saja.

Siang hari, pada 22 Juni 1941, tentara Jerman merangsek ke wilayah Uni Soviet lewat jalur darat setelah menempuh jarak 500 kilometer. Mereka melakukan perang total secara cepat (blitzkrieg) terhadap Uni Soviet. Tentara merah kalah telak di dua pekan pertama. Tentara Jerman berhasil menduduki beberapa wilayah pertanian subur, seperti Ukraina.

Tentara merah ternyata menyimpan separuh kekuatannya. Stalin telah memperhitungkan serangan Jerman ini sejak lama. Memasuki musim dingin, tentara merah mulai memukul mundur tentara jerman. Jalur-jalur pasokan logistik bagi tentara Jerman diputus. Rel kereta dihancurkan. Jalan-jalan utama ditutup.

Tank dan alat berat tidak mendapat pasokan bahan bakar. Salah satu logistik vital lainnya adalah pakaian musim dingin. Tentara Jerman datang dengan seragam militer musim panas. Ketika memasuki musim dingin, mereka tidak mendapat pasokan memadai. Penderitaan tentara Jerman menjadi ‘sempurna’. Mereka kelaparan di tengah cuaca ekstrem yang sangat dingin pada Desember 1941. Berperang untuk pangan, namun karena pangan pula Operasi Barbarossa gagal.

Food War

Kekalahan Operasi Barbarossa merupakan awal kejatuhan Hitler dan kedigdiyaan Jerman di kancah dunia. Jerman mulai diserang di segala sisi. Tentara Jerman di berbagai front mulai dipukul mundur. Para petinggi Jerman mulai masuk ke dalam bunker. Tentara Jerman mulai kehabisan bahan makanan. Bahan bakar perang menipis. Semua sumber daya untuk peperangan sudah ludes.

Jerman angkat tangan dan Perang Dunia II berakhir. Jadi, faktor apa yang menyebabkan kehancuran Jerman? Serangan tentara merah atau keterbatasan pangan?

Cerita soal masa lalu cukup sampai di sini dulu. Saya akan kembali ke masa kini. Sejak akhir 1990-an, dunia mulai khawatir terhadap kelangkaan pangan. Masing-masing negara kini tak lagi berlomba-lomba untuk mengekspor pangan. Mereka lebih memilih mengamankan terlebih dulu stok pangan dalam negerinya sebagai politik pangan.

Di berbagai forum internasional, para pemimpin dan tokoh dunia menegaskan pentingnya “food, energy, and water” (FEW). Singkatannya juga punya makna bahwa tiga hal itu kian menepis (few). Pertemuan World Economic Forum (WEF) pada 2008 menyimpulkan, keterbatasan pangan bisa memengaruhi ekonomi dunia.

Para analis internasional bahkan menyebut keterbasan pangan bisa mengganggu keamanan global. Perang di masa depan tidak akan lagi memperebutkan wilayah atau bertujuan meraih “gold, glory, and gospel“, melainkan berlomba merebut sumber pangan. Perang untuk mendapatkan pangan diperkirakan bisa terjadi mulai 2050.

Sebentar, saya kembali sejenak ke Operasi Barbarossa. Apakah benar perang pangan baru akan terjadi pada 2050? Operasi Barbarossa menjadi tontonan sempurna betapa pangan sudah menjadi penyebab peperangan sejak 1941 dan kesadaran terhadap ketersediaan pangan mulai digagas sejak 1901. Operasi Barbarossa sebenarnya sudah menjadi peringatan sempurna betapa sebuah negara harus memikirkan masa depan kebutuhan pangan rakyatnya.

Di Indonesia, ada 240 juta mulut yang harus disuapi dengan berbagai jenis pangan. Jumlah mulut itu akan terus bertambah setiap tahun. Indonesia tentu tidak perlu melakukan Operasi Barbarossa, karena tanah sudah terhampar luas di negara ini. Yang dibutuhkan hanya keseriusan untuk mengolah dan memanfaatkan. Lantas, bagaimana jika ada negara yang melancarkan Operasi Barbarossa terhadap Indonesia? (ikh)

The following two tabs change content below.

Comments

comments