Foto: nuttyhistory.com

Membaca Pelangi dan Petir dalam Deklarasi Jokowi dan Prabowo

Foto: www.nuttyhistory.com

BertuturCom – Soal tafsir atau intrepetasi, orang Indonesia memang jagonya. Tentu saja bukan tentang benar atau salah. Ini karena setiap hasil penafsiran atau interpretasi pasti sangat tergantung keinginan sang penafsir.

Penafsiran menjadi sangat liar ketika berhubungan dengan kubu atau kelompok massa tertentu. Contoh kongkritnya terjadi ketika deklarasi pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di hari yang sama, Senin (19/5).

Liar karena penafsiran sudah keluar dari konteks politik, apalagi demokrasi. Ini soal ramainya perbincangan tentang pertanda alam saat deklarasi kedua pasangan itu. Tengok saja situs forum atau berita ternama di hari yang sama. Topik soal pertanda alam ini lumayan hangat.

Berawal dari menyebarnya video yang menayangkan adanya fenomena pelangi yang tepat menyoroti poster Jokowi di kawasan Manahan, Solo, Jawa Tengah, ketika berlangsungnya deklarasi Jokowi-JK. Sebelum ‘hijrah’ ke dunia maya, video ini sempat membuat heboh warga setempat.

Mereka pun melakukan penafsiran. Pelangi itu dianggap sanepan, begitu istilah warga. Mereka yang mendukung Jokowi yakin pelangi itu pertanda kemenangan Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2014 ini. Pelangi digambarkan sebagai keindahan, kebesaran Tuhan, dan fenomena langka.

Kehebohan tidak berhenti sampai di sini. Beberapa jam berikutnya, penafsiran soal pertanda alam ramai lagi setelah munculnya petir dan kilat sesaat sebelum deklarasi Prabowo-Hatta. Tak tanggung-tanggung, petir itu terdengar tiga kali. Duarr! Hujan pun turun.

Kejadian ini menjadi santapan lezat kubu yang menjadi lawan Prabowo. Mereka menganggap petir sebagai pertanda buruk. Ini sekaligus simbol kegagalan Prabowo-Hatta dalam pilpres. “Alam pun menolak Prabowo,” begitu kira-kira kata mereka.

Inilah uniknya orang Indonesia. Selalu membuat penafsiran. Tentunya dengan hasil tafsir yang bisa dikondisikan. Kenapa bisa dikondisikan? Karena setiap fenomena selalu ada dua jawaban, termasuk soal pelangi dan petir ini.

Pelangi bisa saja dianggap keindahan atau pertanda baik. Namun, di belahan dunia lain, pelangi tak selalu bermakna baik. Pelangi dianggap sebagai pengantar kematian karena ujung dari pelangi adalah akhir kehidupan. Bahkan, di masyarakat kuno Amazon, pelangi menjadi pertanda datangnya roh jahat pembawa penyakit.

Sebaliknya, petir dan kilat yang dianggap pertanda buruk juga punya penafsiran berbeda di kelompok masyarakat lain. Orang Yunani zaman dahulu menganggap petir sebagai lambang kekuatan terbesar. Petir terlontar dari Zeus, dewanya para dewa Yunani.

Petir juga dijadikan lambang kekuatan dan simbol kekuasaan oleh sebuah kelompok. National States’ Rights Party di Amerika Serikat pada 1950-an menggunakan lambang petir. Begitu pula British Union of Fascists yang lebih dulu menggunakannya pada 1930-an.

Nah, dua jawaban dari setiap fenomena ini membuat hasil penafsiran menjadi sedikit menggelitik. Artinya, jika ada dua penafsiran, salah satunya kemungkinan benar karena bisa jadi merupakan satu dari dua jawaban yang ada.

Misalnya, ketika Prabowo menang, tentu pendukungnya berkata begini, “Tuh kan, petir dan kilat itu memang pertanda baik, mengantarkan Prabowo menuju kekuasaan,”. Sebaliknya, kalau Jokowi yang menang, pendukungnya bilang, “Kemunculan pelangi itu memang tidak salah, buktinya Jokowi menang,”.

Keyakinan yang tinggi terhadap pertanda alam semacam ini jadi pertanda tidak bagus. Kalau lebih banyak masyarakat Indonesia yang yakin terhadap pertanda alam, ini jadi pertanda masyarakat sudah tidak menghargai proses. Mereka lebih yakin melihat pertanda alam ketimbang pertanda yang diperlihatkan lewat aksi nyata para pasangan capres.

Tulisan ini juga sebaiknya segera diakhiri karena banyak pertanda. Sebab, pertanda-pertanda di dalamnya juga tidak tentu benar, kecuali jika pembacanya memang suka membaca pertanda. Lantas pertanda apa yang terbaca dari tulisan ini?

The following two tabs change content below.

Comments

comments