foto: beingindonesian.com

Marco

foto: beingindonesian.com

BertuturCom – Marco dilantik jadi Presiden Republik Indonesia. Dia tak meminta setelan jas dan kopiah. “Beri aku baju hijau, sepatu boot dan baret hitam,” katanya.

Protokoler Istana bingung. Sudah enam presiden, baru sekali ada yang nyeleneh begini.

“Satu lagi, aku minta senapan AK-47,” kata Marco. Mau jadi Che Guevara sepertinya. 

Protokoler istana pingsan.

Setelah dilantik, Marco membubarkan sekolah-sekolah internasional yang mahal. Seluruh rumah sakit swasta dinasionalisasi.

Semua gembel, gelandangan, buruh, tukang tambal ban bersuka cita. Penyakit gondok, kudis dan kanker mereka diobati. Anak-anak buruh tani dan nelayan menyanyi gembira, kini mereka sekolah gratis dengan fasilitas internasional.

“Orang miskin dilarang sekolah itu cuma masa lalu. Orang miskin tak boleh sakit itu bukan di Indonesia,” kata Marco.

Marco menjual semua mobil mewah pejabat. Menghapus fasilitas golf dan perjalanan dinas. Menteri dan Dirjen wajib naik busway atau KRL.

“Kerja kayak anak TK kok minta fasilitas. Gayanya ngebos, punya bini muda kok pakai uang negara,” kata Marco.

Dia ratakan mall dengan tanah. Membangun taman-taman kota dengan fasilitas olahraga gratis. Rupanya Marco teringat kata-kata Enrico Penalosa, mantan wali kota Bogota.

“Kota penuh mall adalah kota yang sakit. Mall dibangun untuk memisahkan si kaya dan si miskin,” kata Marco mengutip Penalosa.

Marco perintahkan para koruptor disuruh kerja paksa bikin rumah susun, puskesmas dan jalur kereta. Banyak yang mati, tapi tentu tak sebanyak zaman Romusha. Lagipula setiap ada koruptor mati kerja paksa, rakyat tepuk tangan, kok.

Marco panggil pulang tuan doktor, engineer, ilmuwan Indonesia yang kerja di luar negeri. Disuruh kembangkan Indonesia biar bener. Biar nggak jadi negara yang tahunya cuma ngutang.

PNS yang cuma main kartu dipensiunkan saja. Suruh transmigrasi ke Flores, bangun perbatasan. Kepala Dinas yang hobi korupsi cukup ditembak pakai AK-47 sampai bolong kepalanya.

Nah, calo-calo proyek yang biasa keliaran, rugi kalau ditembak. Mereka disuruh tidur saja di rel KA, nanti kalau KA lewat juga mati tergilas. Efektif, satu tahun tak ada lagi yang berani korupsi.

Di sidang ekonomi Internasional, Marco meludahi IMF. Dia kencingi kursi presiden negara-negara G8. Berapi-api dikutipnya Tan Malaka.

“Negara yang hidup meminjam pasti menjadi budak negara peminjam!” Teriaknya.

Marco berteriak-teriak. Tak mau turun dari podium. Tiba-tiba, “byuuuur” dia disiram.

“Heiii Marco, bangun pemalas! Cari kerja, sudah siang begini kau masih tidur!” Omelan ibunya merepet bagai mitrailur 7,62 mm.

Marco terbangun. Ditatapnya nanar dinding rumah petak sempit itu. Di meja butut, ijazah sarjana sudah tipis karena terlalu banyak difotokopi.

Ah, mak! Aku bingung cari kerja ke mana lagi…

 

via Note Ramadhian F

The following two tabs change content below.

Ramadhian F.

Pecinta sejarah, pendaki gunung dan ayah 2 beruang.

Latest posts by Ramadhian F. (see all)

Comments

comments