Video klip "Lucy in the Sky with Diamonds" di film "Yellow Submarine" | United Artist

LSD dan Halusinasi Politik

Video klip “Lucy in the Sky with Diamonds” di film Yellow Submarine | United Artist


BertuturCom
– Saat pertama kali mendengar kata “LSD”, entah kenapa pikiran saya selalu mengarah ke lagu legendaris milik The Beatles, “Lucy in the Sky With Diamonds”. Padahal LSD (Lysergic acid diethylamideyang dianggap selawas The Beatles baru muncul lagi di berita pengendara Outlander gila yang menewaskan banyak nyawa di Arteri Pondok Indah. Kabarnya, sang pengendara sempat mengonsumsi obat-obatan terlarang itu sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.

Lalu apa kaitan LSD dengan “Lucy in the Sky with Diamonds”? Entah siapa yang pertama kali memulai, tapi lagu itu sering kali dianggap cara John Lennon untuk menuliskan apa yang dirasakannya saat mengonsumsi LSD. Dan LSD dianggap singkatan dari Lucy in the Sky with Diamonds.

Mungkin juga karena lirik yang penuh bernuansa psikadelik dan imajinatif di dalam lagu yang pertama kali dirilis 1 Juni 1967. Seperti lirik ini:

“Follow her down to a bridge by a fountain.
Where rocking horse people eat marshmellow pies.
Everyone smiles as you drift past the flowers.
That grow so incredibly high”

Padahal John Lennon punya cerita romantis, yang menjadi “asbabun nuzul”, yang menjadi alasan terciptanya lagu ini. Kisah ini bermula saat putranya yang bernama Julian jatuh cinta dengan teman sekelasnya yang bernama Lucy O’Donell. Saking cintanya, Julian bahkan membuat sebuah lukisan tentang Lucy.

Julian kemudian memperlihatkan lukisan tentang Lucy yang disebutnya sedang menari bersama bintang-bintang tersebut ke ayahnya. “Lihat, Ayah. Ini Lucy, dia sedang di angkasa bersama bintang-bintang,” kurang lebih begitulah ucapan Julian ke ayahnya.

John Lennon yang tertarik dengan kepolosan cinta sang anak memandangnya kagum. Apalagi bintang itu dibuat begitu mirip dengan berlian. Hingga kemudian terciptalah lirik di lagu yang juga terinspirasi dengan cerita Alice di buku Through the Looking Glass yang baru selesai dibacanya.

Asbabun nuzul” mengenai lukisan Julian pun diperkuat wawancara Lucy, yang kemudian berganti nama menjadi Lucy Vodden. Dalam wawancara dengan radio BBC, Lucy mengaku ingat pernah melukis bareng di satu sandaran lukisan yang saling berhadapan, dengan Julian ada di hadapannya. Tapi mereka berdua malah saling mencipratkan cat. Setelah kelas usai, Julian diakui Lucy dijemput oleh ayahnya yang ditemani supir.

Tapi tentu kita tidak tahu, apakah John Lennon dalam keadaan 100 persen tanpa pengaruh LSD saat menciptakan lagu itu. Kalau pun tanpa efek halusinogen, entah apakah “Lucy in the Sky With Diamonds” menjadi karya yang menarik, dengan makna yang begitu surealis di dalam liriknya.

Memang dunia lebih menyenangkan jika ada berbagai sudut pandang dalam satu cerita.

Jadi saat berita LSD itu bersanding dengan berita calon kepala polisi yang jadi tersangka korupsi, saat itulah saya makin sadar kalau selalu ada banyak sudut pandang dalam satu cerita. Meski ada juga yang dibuat dengan narasi karena imajinasinya sendiri.  LSD dan halusinasi memang bukan dua hal yang saling melekat dan mengikat. Banyak yang halusinasi tanpa harus menyicip LSD.

Seakan menyangkal bahwa presiden pilihan relawan itu melakukan kesalahan, ada yang menciptakan narasi kalau sang presiden dengan heroik sedang melakukan perlawanan dari tekanan orang-orang yang berusaha menjadikannya boneka. Banyak yang menciptakan narasi sang presiden meminjam tangan lembaga anti-rasuah untuk menolak calon kepala polisi yang katanya titipan.

Tapi narasi terus berganti seiring dinamika yang terjadi. Saat presiden itu  keukeuh mempertahankan calon kepala polisi, narasi berubah dengan menyebut presiden berusaha menghormati proses hukum dan proses politik, karena calon yang diajukan sudah dapat restu parlemen. Presiden juga disebut menghormati lembaga anti-rasuah dengan tidak langsung melantiknya.

Juga saat presiden mengganti kepala polisi yang masih aktif bertugas, banyak yang tetap membela dengan mengatakan presiden sebelumnya juga pernah mencopot kepala polisi jauh sebelum usia pensiun.

Pembelanya seolah tidak peduli kalau presiden melanggar undang-undang kepolisian tentang pencopotan kepala polisi yang harus dilaporkan ke parlemen beserta alasannya yang harus bersifat darurat. Malah, lagi-lagi, narasi lain dihadirkan: Kalau presiden tidak melakukan pelanggaran undang-undang kepolisian karena melakukan diskresi yang diatur di undang-undang lain. Atau ada juga alasan yang menyebut tafsir parlemen sudah menyetujui pencoptan, sepaket dengan ketika pencalonan kepala polisi yang terkait kasus korupsi itu sudah direstui.

Kasus pun semakin berkembang saat pimpinan lembaga anti-rasuah disebut pernah melakukan pendekatan untuk menjadi pasangan presiden, yang kemudian ditolak. Halusinasi bertambah. Pendukung purnawiran gagah yang menjadi lawan politik presiden di pemilihan, beranggapan kondisi akan lebih baik jika purnawirawan gagah itu yang memimpin.

Pendukung purnawirawan gagah pun mengolok-olok para pemilih presiden, yang anehnya seperti tidak mau terima saat para pemilih itu ikut melemparkan kritik ke presiden. Para pendukung purnawirawan gagah seperti ingin melestarikan anggapan kalau presiden diperlakukan seperti nabi.

Halusinasi bertambah. Sebab kader partai yang pimpinannya terjerat kasus di lembaga anti-rasuah ikut memanfaatkan kesempatan. Para kader ini seperti tidak melihat fakta bahwa seorang individu tidak mewakili institusi.

Tentu halusinasi yang sama jika menganggap lembaga anti-rasuah itu tidak pernah berbuat salah. Sebab, lembaga anti-rasuah juga dihuni manusia, yang punya kecenderungan memanfaatkan posisi untuk kepentingannya.

Karena toh, kesalahan pimpinan partai tidak merepresentasikan kadernya. Kekhilafan pimpinan lembaga pun tidak menghapus kebaikan anak buah atau lembaga yang dipimpinnya.

Tapi itulah hikmah dari “Lucy in the Sky With Diamonds”. Selalu ada bermacam makna dalam satu cerita.

Kalau saya sih selalu suka dengan versi yang menggambarkan cinta Julian kepada Lucy. Jadi wajar juga kalau banyak yang ingin percaya hal-hal yang menurutnya lebih “terang” ketimbang “gelap”.

Tapi apa wajar untuk tidak mendengar, melihat, membaca, atau syak wasangka dengan hal yang tidak dipercayainya? Semoga enggak gitu juga, sih.

Karena, tetap saja… Selalu ada interpretasi LSD, selain cinta Julian ke Lucy. (Januari 2014)

Diambil dari:  bayugalih.blogspot.com

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments