Lukisan Nyai Roro Kidul (foto: neomisteri.com)

Ketika Budaya Patriarki Merambah Jagat Lelembut

BertuturCom – Indonesia adalah negeri yang penuh dengan aroma mistis. Di banyak sisi kehidupan masyarakatnya, selalu disangkutpautkan dengan hal-hal yang berbau gaib.

“Jangan keluar malam, nanti ada pocong, atau jangan lewat di dekat pohon itu, ada penunggunya,” demikian kita sering ditakut-takuti dengan kalimat-kalimat seperti itu saat masa kecil dulu.

Tak terhitung pula berapa banyak sebutan mahluk halus yang muncul dari cerita turun temurun dari mulut ke mulut.

Tapi yang membuat saya heran, kenapa nama-nama mahluk halus atau hantu-hantu yang familiar di telinga kita adalah nama-nama hantu perempuan? Bisa saja nama-nama hantu feminis ini disengaja, atau bisa jadi cuma karena kebetulan saja.

Sebut saja Kuntilanak, Nyai Blorong, Nyai Roro Kidul, Mak Lampir, Nini Pelet, Si Manis dari Jembatan Ancol dan masih banyak lagi.

Parahnya lagi, hantu-hantu genre baru juga kebanyakan berjenis kelamin perempuan, seperti dalam film-film horor Tanah Air semisal Pocong Tali Perawan, Suster Keramas, Suster Ngesot, Hantu Jamu Gendong, Pocong Goyang Karawang, dan masih banyak lagi.

Kadang saya heran, apakah penyebutan nama-nama hantu cowok kurang diminati? Misalnya Tali Pocong Perjaka, Si Ganteng Jembatan Pesing, atau bahkan hantu Kyai Mursid. Bisa jadi mungkin awalnya orang akan merasa aneh. Tapi bukankah hal yang aneh jika dibiasakan lama-lama jadi terbiasa?

Tapi kalau ditelisik, mungkin bisa jadi maraknya hantu-hantu wanita di dunia nyata bahkan di dunia layar lebar lantaran terpengaruh budaya patriarki yang memang selama ini kental di negara kita. Patut tidak patut, dan baik buruknya sesuatu kebanyakan diputuskan oleh para pria. Ahirnya, wanita hanya jadi objek penderita yang selalu dijadikan korban.

Tulisan ini bukannya untuk mendukung gerakan feminis, atau bahkan memperjuangkan hak-hak wanita atau pun hantu wanita, tidak semulia itu. Namun cuma sekadar rasa prihatin saja, kok cengkraman patriarki sampai masuk ke dunia mahluk halus.

Nah, soal penyebutan istilah mahluk halus ini menurut saya juga perlu dikritisi. Halus selama ini kan identik dengan wanita. Padahal mana ada hantu-hantu yang halus, mereka semua serem dan menakutkan. Kenapa tidak disebut saja mahluk kasar, yang identik dengan pria. Lagi-lagi saya gagal memahaminya. Terserah seperti apa menurut Anda. (rzp)

*foto: neomisteri.com

The following two tabs change content below.
anwarkhu@gmail.com'

Reza Rezita

Comments

comments