Kemeja Kotak-Kotak

Ketidakyakinan Jokowi dan Kemeja Kotak-Kotak

Foto: VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

BertuturCom – Joko Widodo menggowes sepeda onthel. Wajahnya terlihat sumringah. Di belakangnya, ada Jusuf Kalla yang juga menggowes sepeda sembari menebar senyum lebar. Keduanya baru saja mendeklarasikan sebagai bakal calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2014. Usai deklarasi, Jokowi-JK menuju Kantor KPU di Menteng, Jakarta Pusat, untuk mendaftar. Keduanya mengenakan pakaian yang sama, yaitu kemeja putih dengan lengan digulung dan celana panjang hitam.

Saya langsung menganggap pakaian itu menjadi seragam pasangan yang belakang mendapat nomor urut 2 ini. Kendati demikian, pakaian tersebut ternyata hanya sebentar menjadi seragam Jokowi-JK. Beberapa hari berselang, hanya JK yang tetap mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung dan celana hitam. Jokowi? Dia mengenakan kemeja kotak-kotak tiga warna, yaitu merah, putih, dan biru.

Ada apa Jokowi harus menanggalkan pakaian yang kerap dia kenakan ketika melaksanakan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta blusukan ke daerah-daerah? Apakah pakaian tersebut tidak cukup jadi tren, seperti halnya kemeja kotak-kotak? Dan, mengapa seragam menjadi begitu penting dalam perpolitikan di Indonesia sekarang ini? Untuk menjawab ini, saya pun berusaha mengingat pada peristiwa dua tahun terakhir.

Kemeja kotak-kotak memang identik dengan Jokowi sejak kampanye Pilkada DKI, dua tahun lalu. Saya, mungkin juga semua warga DKI, masih ingat ketika Jokowi bersama Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok mendaftar ke KPU DKI, dua tahun lalu. Keduanya mengenakan kemeja kotak-kotak tiga warna, merah-biru-putih. Selanjutnya, pakaian itu menjadi seragam Jokowi-Ahok selama kampanye Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta.

Setiap tampil di muka umum, Jokowi-Ahok selalu mengenakan baju kemeja kotak-kotak. Pemilihan baju kotak-kotak itu pun menjadi petanda keduanya merupakan pasangan yang antimainstream dan keluar dari pakem. “Warna-warni ini filosofi Jakarta,” kata Jokowi, dua tahun lalu. Bukan lantaran warga Jakarta terkotak-kotak. Warga Jakarta memiliki latar belakang agama dan suku yang berbeda-beda, namun dapat hidup dalam harmoni.

Kotak-kotak pun dengan cepat menjadi tren di masyarakat. Para pendukung Jokowi mengimitasi idolanya dengan mengenakan baju kotak-kotak. Kemeja kotak-kotak juga menjadi bentuk dukungan kepada mantan wali kota Solo tersebut. Karena itu, kemeja kotak-kotak menjadi identik dengan Jokowi. Mereka yang tidak mendukung dan kebetulan memiliki kemeja kotak-kotak memilih menyimpan kemeja kotak-kotak miliknya hingga euforia Pilkada DKI.

Usai terpilih sebagai gubernur DKI, Jokowi melepaskan kemeja kotak-kotak. Selama blusukan, Jokowi itu lebih sering mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Kemeja putih dengan lengan digulung dan celana hitam sudah dikampanyekan sebagai simbol kesederhanaan dari Jokowi. Poster berukuran raksasa yang memuat Jokowi mengenakan outfit tersebut sudah menyebar di penjuru kota.

Dalam poster itu termuat kemeja Jokowi hanya seharga Rp 100 ribu dan celana hitam Rp 110 ribu, sedangkan sepatu Rp 160 ribu. Outfit itu tidak hanya persoalan kesederhanaan. Tapi, ada simbol lain yang ingin ditanamkan oleh Jokowi. Saya pun mengartikan kostum Jokowi dengan secara bebas. Warna putih mencirikan bersih, yang dapat berarti Jokowi bekerja dengan bersih alias tidak korupsi. Kemeja digulung seharusnya mencerminkan pekerja keras dan dinamis. Kemeja digulung juga berarti Jokowi bukanlah seperti kebanyakan birokrat yang kaku. Dia menerapkan pola kerja yang tidak sesuai dengan arus utama, seperti perjuangannya ketika menuju kursi nomor DKI 1.

Kenapa ‘kostum’ ini disingkirkan? Awalnya, Jokowi beralasan dia menanggalkan kostum tersebut karena kubu pesaing, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, juga mengenakan kostum dengan warna yang sama. Jawaban ini sebenarnya tidak memuaskan karena kostum Jokowi bukan hanya menitikberatkan pada warna, tapi juga ada lengan yang digulung dan harga yang murah. Ada simbol berbeda yang coba disematkan oleh Prabowo-Hatta. Jadi, alasan ‘kubu sana’ tidak bisa terlalu diterima.

Belakang, Jokowi mengakui bahwa dia kembali mengenakan kemeja kotak-kotak karena banyak masyarakat yang lebih suka dia mengenakan pakaian kotak-kotak. Dia menyatakan, kostum tersebut telah menjadi personal brand tersendiri yang terbangun di masyarakat mengenai diri dia. Singkatnya, Jokowi dan kemeja kotak-kotak adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan.

Saya pun teringat Barrack Obama. Selama kampanye, baik pada 2008 dan 2012, Obama kerap mengenakan kemeja digulung. Kemeja digulung seolah menunjukkan bahwa dia dinamis dan muda. Dia pun berhasil menjaring pemilih muda, setidaknya pada Pemilu AS 2008. Tapi, kemudian, Tommy Hilfiger mengkritik penampilan Obama selama kampanye Pemilu 2014. Pada sebuah wawancara dengan Piers Morgan di CNN dua tahun lalu, si desainer asal AS ini bilang bahwa Obama seharusnya lebih sering mengenakan jas dibandingkan pakaian yang lebih kasual. “Dia terlihat profesional dan proper ketika mengenakan suit,” ujar Hilfiger.

Pernyataan Hilfiger menunjukkan pakaian yang dikenakan bukan lagi soal fashion statement yang terkait dengan selera, namun juga political statement. Ini sebenarnya juga sudah dibuktikan melalui euforia kemeja kotak-kotak selama Pilkada DKI 2012. Politik bukanlah sesuatu yang berada di ruang hampa. Karena itu, persinggungan politik dengan fashion yang kemudian menciptakan tren sangatlah mungkin terjadi. Apalagi, tokoh politik era sekarang ini di Indonesia serupa dengan artis. Hubungan tokoh politik, seperti Jokowi, dengan para pendukungnya tidak berbeda jauh dengan relasi yang diciptakan George Lucas melalui Star Wars dan para penggemarnya.

Tapi, pakaian sebagai pernyataan politik ini kemudian memunculkan pertanyaan mengapa Jokowi tidak cukup berani untuk menciptakan tren baru? Bagi saya, kemeja kotak-kotak bukan lagi simbol perlawanan seperti halnya pada Pilkada DKI. Kemeja kotak-kotak sudah menjadi simbol arus utama. Pemilihan kemeja kotak-kotak seperti menunjukkan ketidakpercayaan kubu Jokowi terhadap ‘fashion baru’ yang ingin diciptakan melalui kemeja putih dengan lengan digulung dan celana panjang hitam.

Alasan Jokowi bahwa ada 63 persen masyarakat yang lebih suka dia mengenakan kemeja kotak-kotak menunjukkan bahwa Jokowi dan tim suksesnya ‘menyerah’ pada permintaan pasar, dibandingkan menciptakan tren baru. Entah apa alasan Jokowi dan tim suksesnya menyerah pada selera pasar. Apakah ini karena ada ketidakyakinan dalam diri kubu Jokowi dapat menciptakan tren baru? Apalagi, survei terbaru menunjukkan elektabilitas Jokowi dan Prabowo hanya tersisa 13 persen. Sehingga, Jokowi memilih ‘main aman’ dengan mengeluarkan tren lama sembari berharap euforia serupa Pilkada DKI bakal terjadi pada 9 Juli mendatang.

The following two tabs change content below.
napuspita@gmail.com'

Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.

Comments

comments