Ilustrasi Topeng Guy Fawkes (foto: http://wallpaperswa.com)

Guy Fawkes, Revolusioner di Balik Topeng Hacker Anonymous

Ilustrasi Topeng Guy Fawkes (foto: http://wallpaperswa.com)

BertuturCom – Berkembangnya era digital tak hanya melambungkan nama Apple, Microsoft, atau Google sebagai penghasil produk teknologi yang paling banyak digunakan konsumen saat ini. Era digital juga ikut melambungkan nama Anonymous. Kelompok aktivis hacker ini dikenal sering melancarkan serangan cyber sebagai bentuk protes terhadap arogansi yang dilakukan pemerintah suatu negara atau korporasi global.

Atas berbagai aksi yang dilakukan, Anonymous mengklaim sebagai kelompok revolusioner di era digital. Selain memiliki ciri khas serangan Distributed Denial of Services (DDoS) untuk melumpuhkan situs yang menjadi sasaran, Anonymous juga tenar berkat topeng khas bergambar seorang berkumis dengan senyum yang mengembang lebar.

Topeng ini diambil dari novel grafis V for Vendetta karya Alan Moore, yang idenya berasal dari karakter Guy Fawkes. Selain sering ditampilkan Anonymous saat meretas situs, topeng Guy Fawkes ini juga banyak digunakan di aksi demonstrasi jalanan, terutama saat aksi protes besar Occupy Wall Street. Mengutip Time, popularitas topeng Guy Fawkes menjadikannya sebagai salah satu produk terlaris yang sering dipesan di situs belanja Amazon.com.

Siapakah Guy Fawkes?

Meski topengnya sering digunakan di aksi-aksi bertema revolusioner, ironisnya nama Guido Fawkes muncul setelah gagal menciptakan aksi revolusioner terbesar sejagat raya. Dikutip dari laman BBC, Guy Fawkes merupakan salah satu konspirator dari kelompok ekstremis Katolik Roma yang ingin meledakkan gedung parlemen di London, Inggris, pada 5 November 1605.

Dengan menempatkan 36 tong bubuk mesiu di lorong yang berada di bawah gedung parlemen, Fawkes rencananya menjadi orang yang siap menyulut ledakan dalam Gunpowder Plot. Raja James I terlihat menjadi sasaran serangan, sebab 36 tong bubuk mesiu tersembunyi di antara tumpukan kayu, tepat di bawah tempat Raja James I duduk saat pembukaan parlemen.

Guy Fawkes dan kelompoknya tentu punya alasan. Di masa itu, mengutip History Learning Site, umat Katolik merupakan kelompok masyarakat yang tertindas di Inggris. Sejarah mencatat penindasan ini bermula ketika Raja Henry VIII memutuskan Inggris tak lagi menjadi kerajaan yang menganut Katolik Roma. Penyebabnya, Henry VIII bersengketa dengan Paus akibat tak bisa menceraikan istrinya. Henry VIII kemudian membentuk Gereja Inggris dan menjadikan Anglikan sebagai aliran agama yang dianut Inggris.

Penindasan terhadap umat Katolik mulai marak saat Elizabeth I yang merupakan anak Henry VIII diangkat menjadi Ratu Inggris. Di masa pemerintahan Elizabeth I, muncul kebangkitan Katolik di wilayah utara. Pemberontakan yang dilakukan umat Katolik pun semakin kuat, apalagi ketika Elizabeth I menahan Mary Ratu Skotlandia yang masih merupakan keponakannya sendiri. Mary dari Skotlandia dianggap mengancam tahta Elizabeth I, yang kemudian semakin bersikap represif. Akibatnya, banyak pengaut dan pendeta Katolik yang dihukum mati.

Tak heran saat Elizabeth I meninggal dunia, umat Katolik di Inggris bersuka cita. Saat James I diangkat menjadi Raja Inggris yang baru, harapan kelompok Katolik muncul. James I merupakan anak dari Mary Ratu Skotlandia yang memilih damai dengan Elizabeth I. Perjanjian Damai Berwick tetap ditandatangani James I meskipun ibunya dieksekusi Elizabeth. Dari karakter ini terlihat bahwa James I bukan sosok yang tegas, karena itu walaupun James I ingin melonggarkan sejumlah hukum yang dianggap anti-Katolik, tapi James I tak bisa berbuat banyak saat parlemen menolaknya.

Kelompok Katolik tetap marah, hingga merencanakan Gunpowder Plot. Guy Fawkes sendiri terlibat konspirasi ini setelah diajak terlibat oleh Robert Catesby yang memimpin pemberontakan. Dengan keahlian di bahan peledak selama “Perang 80 Tahun” melawan Spanyol, tentu Fawkes menjadi tokoh kunci dari rencana ini.

Mengutip BBC, rencana ini gagal setelah diketahui oleh Robert Cecil, kepala intelijennya Raja James I. Fawkes ditangkap, 36 tong bubuk mesiu pun berhasil diamankan sebelum diledakkan. Setelah ditangkap, Fawkes disiksa selama interogasi di Menara London. Mengaku bernama Jack Johnson, Fawkes awalnya enggan mengungkap semua rencana konspirasi dan tokoh yang terlibat.

fawkes

Penangkapan Guy Fawkes (foto: britannica.com)

Penyiksaan sepertinya berlangsung sangat hebat. Dikutip dari Business Insider, ini terlihat dari tanda tangan Fawkes sebelum dan sesudah penyiksaan. Sebelum penyiksaan, tanda tangan bertuliskan “Guido Fawkes” masih jelas terlihat. Tapi tanda tangan terlihat samar setelah penyiksaan, yang memperlihatkan Fawkes dalam keadaan sangat lemah dan gemetar akibat disiksa. Fawkes pun akhirnya membuka identitas aslinya pada 7 November, dan mengungkap rencana konspirasi pada 8 dan 9 November.

Pada 31 Januri 1606, Guido Fawkes diekseksusi bersama rekan konspirator lainnya, Thomas Wintour, Ambrose Rookwood dan Robert Keyes. Tubuhnya diseret dari Menara London ke lokasi eksekusi gantung di Old Palace Yard, Westminster. Setelah digantung, tubuhnya pun dibelah menjadi empat bagian dan disebar ke empat penjuru kerajaan. Empat potongan tubuhnya dipajang sebagai peringatan kepada mereka yang ingin berkhianat kepada Inggris Raya.

Setelah itu, di Inggris muncul peringatan Bonfire Night yang dikenal juga dengan sebutan “Malam Guy Fawkes”. Kembang api dinyalakan sebagai penanda kegagalan Fawkes dan rekan-rekannya meledakkan Gedung Parlemen di Gunpowder Plot.

Tak Dianggap Pengkhianat

Di V for Vendetta, Fawkes digambarkan sebagai ikon perjuangan melawan penguasa fasis dan tak lagi digambarkan sebagai pengkhianat yang melakukan terorisme. Alasan yang sama digunakan Anonymous saat menggunakan Topeng Guy Fawkes. Dikutip dari Anon Insiders, Anonymous menggunakan topeng ini pertama kali saat memprotes Gereja Scientology yang menyerang para pengkritiknya di dunia maya. Penggunaan pun terus berlanjut, bahkan mendunia saat digunakan di aksi protes Occupy Wall Street dan Arab Spring.

Namun kepada Slate, Gregg Housh yang mengaku aktivis Anonymous mengungkap alasan penggunaan Topeng Guy Fawkes. Awalnya banyak yang merasa ragu untuk menggunakan Topeng Guy Fawkes karena aksi yang dianggap sebagai bentuk teror. Alternatif pun diajukan, salah satunya adalah Batman.

“Kemudian kami cek toko kostum dan komik di seluruh dunia,” ucap Housh. Topeng yang menjadi ikon film V for Vendetta ini rupanya banyak tersedia dan mudah didapat. “Ini tersedia, murah, dan ada di semua kota. Fawkes asli tak ada kaitannya dengan kami,” ucap Housh.

Apapun itu, berkat Anonymous, peringatan ditangkapnya Guy Fawkes pun tak lagi dikenang sebagai aksi pengkhianatan. Tafsir akan Guy Fawkes memang mulai berubah. Tapi senandung yang sama tetap disuarakan:

Remember, remember, the fifth of November. The gunpowder, treason and plot..

via: TechStoria

The following two tabs change content below.

TechStoria

Reka sejarah ranah digital dengan mengurangi terka.

Latest posts by TechStoria (see all)

Comments

comments