Gerakan Perempuan (foto: http://girltalkhq.com)

Feminisme dan Perang Antarperempuan

Gerakan Perempuan (foto: http://girltalkhq.com)

BertuturCom – Saya tidak pernah membaca secara detail mengenai feminisme sehingga Anda boleh meragukan cara saya memandang persoalan ini. Tapi dari yang saya pahami, feminisme merupakan perjuangan atau kampanye untuk mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan akibat budaya patriarki yang terbentuk bertahun-tahun.

Semua manusia tidak seharusnya ditempatkan dalam dikotomi perempuan dan laki-laki ketika melakukan perannya di masyarakat. Baik perempuan maupun laki-laki harus dilihat sebagai manusia ketika terkait peran di masyarakat. Karena itu, semua manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Konsep memanusiakan manusia, tanpa memandang jenis kelaminnya, seharusnya sederhana. Sebagai contoh, gerakan ini berupaya mendorong adanya besaran upah yang sama bagi semua manusia. Gerakan ini juga menyuarakan otonomi reproduksi yang sama bagi semua manusia sehingga mengakhiri kekerasan seksual.

Namun, tidak demikian dalam praktiknya. Feminisme menjadi sesuatu yang sangat kompleks ketika diterapkan di masyarakat. Alhasil, gerakan kesetaraan gender justru diartikan sebagai kampanye ‘membenci laki-laki’ atau ‘perempuan melawan laki-laki’. Karena itu banyak selebriti internasional yang menganggapnya feminisme sebagai kata yang terlalu kuat.

Tidak hanya aktris Susan Sarandon yang memilih kata humanisme daripada feminisme. Penyanyi Madonna dan bintang serial Sex and the City, Sarah Jessica Parker, juga lebih senang menyebut diri mereka sebagai humanis ketimbang feminis.

Penyanyi berdarah Islandia, Bjork, juga menolak mengidentifikasi dirinya sebagai feminis. Sebab, menurut Bjork, istilah itu hanya akan mengisolasinya. “Anda mungkin dapat menyebut ibu saya seorang feminis, dan saya melihatnya mengisolasi dirinya sepanjang hidup dari laki-laki dan masyarakat,” kata Bjork, seperti dilansir Salon pada 2 November 2014.

Terkait labelisasi, bukan hanya Shailene Woodley yang menentang ada dikotomi feminis dan antifeminis. Dua aktor pemenang Oscar, Melissa Leo dan Juliette Binoche, tidak sepakat dengan label yang perlu disematkan pada mereka. “Debat itu (feminis) telah berlangsung bertahun-tahun! Sangat membosankan,” ujar Binoche.

Bahkan, Binoche menyatakan label feminis hanya untuk menempatkan orang dalam stereotipe tertentu. Mungkin stereotipe ini yang dialami oleh Woodley dan penyanyi Lana Del Rey. Del Rey telanjur dianggap mengusung semangat antifeminisme sejak dua tahun lalu.

Dia juga dilabeli sebagai misoginis karena menyanyikan lirik “love you more than those bitches before“. Lirik dalam lagu “Blue Jeans” itu muncul dua tahun sebelum Del Rey mendeklarasikan ketidaktertarikannya terhadap feminis.

Di sisi lain, Miley Cyrus menginginkan kesetaraan antara penyanyi perempuan dan laki-laki. Dia pun  menceritakan perlakuan yang berbeda antara penyanyi perempuan dan laki-laki. Karena itu, Cyrus pun dimasukkan dalam daftar selebriti feminis.  Meski juga menyenandungkan lirik “hot model bitches around me“, Cyrus tidak dianggap berpandangan misoginis.

Dampak lain dari labelisasi feminis dan antifeminis, yaitu memunculkan perang baru dalam dunia perempuan. Seolah hanya ada dua jenis perempuan di dunia ini: feminis dan antifeminis. Padahal, selama ini, perempuan sudah harus berurusan dengan banyak perang dengan perempuan lain.

Perang antarperempuan ini seperti perempuan anggun versus tomboy, cantik tapi bodoh versus jelek tapi pintar, ibu menyusui versus ibu tidak menyusui, ibu bekerja versus ibu rumah tangga, perempuan baik-baik versus perempuan murahan, dan banyak daftar lain yang sangat memuakan.

Entah siapa yang memulai, perang-perang ini sebenarnya tidak pernah berujung ke mana-mana. Kecuali, menjadi hiburan bagi orang yang tidak terlibat di dalamnya. Orang-orang yang tidak terlibat bisa menonton bagaimana para perempuan saling mencakar. Semakin kuat perdebatannya maka semakin banyak orang yang terlibat dan menonton.

Ah, jangan-jangan perang ini, termasuk soal feminis dan antifeminis di dunia selebriti, demi kepentingan industri alias agar lebih banyak penonton. Perempuan disibukkan dengan dikotomi sehingga melakukan berbagai hal untuk mempertahankan dia berada di sisi yang benar. Selebriti dipisahkan berdasarkan pandangannya sehingga muncul feminis versus antifeminis atau misoginis versus misoandri (antilaki-laki). Entahlah… (anm)

The following two tabs change content below.
napuspita@gmail.com'

Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.

Comments

comments