David Cameron menyusui anak domba (foto: LEON NEAL/AFP/Getty Images)

Dunia Politik, Dunia Binatang

Credit photo: LEON NEAL/AFP/Getty Images

BertuturCom – Jangan terkecoh dengan judul tulisan. Saya tidak bermaksud menyamakan dunia politik dengan binatang. Biarlah itu tetap menjadi lirik milik Iwan Fals dalam lagu “Asyik Nggak Asyik”.

Meski saya tahu banyak orang yang menganggap dunia politik itu seperti binatang, tapi saya tidak akan membahas soal itu. Jadi, kalau Anda politikus atau berkecimpung di dunia politik, jangan tersinggung. 

Saya akan bercerita soal binatang dalam arti sebenarnya. Lalu, apa hubungannya dengan politik? Ini yang menarik. Saya menemukan beberapa fakta yang cukup menggelitik. Mudah-mudahan bisa menggelitik Anda juga. Akhir-akhir ini, binatang mulai masuk panggung politik dan mendapat porsi publikasi yang luar biasa besar.

Keberadaan binatang ini memegang peranan dan fungsi penting. Mungkin tidak bisa tergantikan oleh alat atau benda lain. Saya menganggap ini sebagai revolusi dalam pemanfaatan binatang oleh manusia. Yang jelas, manusia lebih banyak diuntungkan. Binatang mungkin banyak mendapat keuntungan dari manusia, tapi saya sulit mendapat konfirmasi langsung mengenai hal ini dari binatang.

Saya terperanjat dengan melihat foto Perdana Menteri Inggris David Cameron di Peternakan Dean Lane di kota kecil Chadlington, Inggris, Minggu, 5 April 2015 lalu. Dia tampak mengenakan celana jeans dan jaket hangat berlogo The North Face di dada kirinya.

Cameron duduk di lantai kandang beralaskan jerami sambil menggendong anak domba yang ditinggal mati induknya. Dengan penuh hati-hati, dia menyusui anak domba itu menggunakan botol plastik.

Cameron tampil sangat natural dalam foto itu. Seorang perdana menteri yang setiap hari berkutat dengan urusan negara, melakukan rapat, dan mengenakan jas lengkap, tiba-tiba berada di sebuah peternakan di akhir pekan, menyusui anak domba!

Pemimpin Partai Konservatif yang akan menghadapi pemilu ini lebih memilih berpose bersama binatang. Sementara, di hari yang sama, pemimpin Partai Buruh Edward Miliband dan Partai Liberal Demokrat Nick Clegg sedang giat berkampanye di sejumlah tempat.

Yang mendapat perhatian positif dari publik Inggris justru Cameron dengan anak dombanya. Foto-foto Cameron langsung menyebar di jagad maya. Sisi humanis Cameron tertangkap dengan baik dalam foto tersebut. Siapa sangka, bergumul dengan anak domba ternyata lebih efektif dibanding berkampanye di sejumlah tempat.

Lain lagi cara Australia memanfaatkan binatang. Negara ini memanfaatkan koala sebagai ‘duta besar’.

Binatang marsupial berwajah tak berdosa itu mengemban tugas diplomatik yang penting. Australia baru saja mengirimkan empat ekor koala ke Singapura sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Singapura yang ke-50.

Koala tersebut diterbangkan dari Brisbane dan tiba di Singapore Zoo pada 16 April 2015. Koala ini menjalankan agenda politik internasional Australia yang memilih memperkuat pengaruhnya di Asia ketimbang Barat. Mengirimkan koala merupakan salah satu cara yang unik. Terbukti, publik Negeri Singa sangat antusias dengan kedatangan hewan baru di kebun binatang miliknya.

  • Presiden Soeharto di Tapos (Foto: AntaraFoto)

Rupanya, cara ini juga dilakukan Swedia yang mengirimkan binatang khas monyet kerdil untuk Arab Saudi pada Maret 2015 lalu. Namun, berbeda dengan Australia, upaya Swedia tidak berlangsung mulus. Arab Saudi menolak ‘suvenir’ itu lantaran banyak aktivis HAM di Swedia yang mengkritik pelanggaran hak asasi perempuan dan kebebasan menyampaikan pendapat di Arab Saudi.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un juga rupanya paham betul fungsi binatang dalam politik. Pada 2012 silam, ketika publik internasional mencibir dirinya yang terlalu muda dan polos memimpin Korut, Jong-un memilih berpose di atas kuda. Foto-foto Jong-un menunggang kuda bahkan disebarkan oleh kantor berita resmi Korut. Dia pun sedikit terlihat jantan dan dewasa dengan menunggang kuda.

Presiden Soeharto lebih canggih lagi. Dia sudah dari dahulu paham pentingnya binatang dalam politik. Pada 1976, dia mengajak Perdana Menteri Australia Malcolm Fraser ke peternakan sapi di Tapos, Ciawi, Bogor.

Fraser yang tinggi besar dan selalu tampil rapi mengenakan jas ‘dikerjai’ oleh Soeharto memasuki peternakan yang berisi ratusan ekor sapi. Tapi, cara ini cukup ampuh meningkatkan kepercayaan Negeri Kangguru itu terhadap Indonesia, sehingga berbagai kerjasama di bidang pertanian pun berjalan mulus.

Mungkin masih banyak contoh lain pemanfaatan binatang dalam politik. Jadi, binatang memang tidak bisa dilepaskan dari politik. Namun, satu hal yang masih saya ragu, apakah ini merupakan salah satu eksploitasi binatang? Saya ingin komentar para pecinta binatang dalam hal ini. Saya paham sedikit tentang komunikasi politik dan kebetulan pernah belajar mengenai sejarah domestikasi hewan. Saya tidak pernah menyangka menemukan hubungan antara keduanya. Dulu, saya mengetahui bahwa domestikasi hewan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, perlindungan diri, berburu, hingga status sosial, tapi untuk politik?

Sekali lagi, saya tidak menyinggung para pelaku politik itu seperti binatang. Tapi, saya juga tidak menyalahkan apabila publik punya opini seperti itu. Saya kira bukan tanpa alasan Iwan Fals menyebut ‘dunia politik, dunia binatang’. Sudahlah, saya cuma kasihan sama binatang. Sudah memberi banyak manfaat untuk politik, tapi malah disamakan dengan politik. Kalau binatang bisa saya tanya, mungkin mereka juga tidak sudi disamakan dengan politik.  (ikh)

The following two tabs change content below.

Comments

comments