Foto: technorati.com

Crowdsourcing dan Pemberdayaan Kerumunan di Jagat Maya

Foto: technorati.com

BertuturCom – Jeff Howe haqqul yaqin dengan kekuatan internet. Sebagai seorang pengamat industri digital dan kontributor untuk majalah teknologi sekeren Wired, Howe tentu tak awam dengan cepatnya perkembangan digital di era internet yang mulai mengoptimalkan peran pengguna. Gejalanya memang terlihat dengan berkembangnya situs berbasis user generated content, dengan platform yang memungkinkan para pengguna berperan aktif sebagai pengisi konten. 

Situs berbagi video YouTube, media sosial semacam Friendster dan MySpace, platform blog sejenis Blogger dan WordPress, hingga forum online seperti Reddit memang diprediksi akan menggantikan peran media konvensional yang sifatnya searah.

Ini era 2.0. Era yang memungkinkan dampak komunikasi yang lebih revolusioner dibanding yang telah dilakukan Johannes Gutenberg dengan mesin cetaknya. Jika mesin cetak berhasil menyebarluaskan gagasan secara tertulis, maka internet dengan user generated content memungkinkan terciptanya interaksi antargagasan, dengan dampak yang lebih cepat dan tersebar lebih masif.

Karena itu ketika Wired memintanya menulis tentang bagaimana internet bisa membantu mengembangkan bisnis amatir di tahun 2005, Howe menyambutnya dengan antusias. Malahan Howe yakin internet bisa mengancam hasil kerja para profesional, yang akan digantikan oleh karya para amatir. Apa yang dipikirkan Howe dan Mark Robinson selaku editor sebenarnya sederhana, internet seperti outsourcing yang menyediakan tenaga amatir dari kerumunan (crowd).

“Saya menyebutnya crowdsourcing. Sejujurnya saya sedang bercanda saat itu. Kecintaan Silicon Valley akan gabungan kata memang jadi bahan candaan di Wired. Tapi Mark senang dengan ide cerita itu, bahkan sangat senang dengan kata yang digunakan,” kata Howe, dikutip dari NY Times.

Wired kemudian menghadirkan crowdsourcing sebagai tema utama di edisi Juni 2006, dengan judul “The Rise of Crowdsourcing”. Dalam artikel itu, setidaknya ada empat situs berbasis crowdsourcing yang dibahas. Di antaranya adalah iStockphoto, yang menjadikan hasil jepretan para amatir memiliki nilai. iStockphoto tentu menjadi alternatif untuk mendapatkan foto berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan jepretan para profesional.

Ada juga InnoCentive, situs yang menawarkan solusi research and development kepada para perusahaan yang secara terbuka mau mengungkap permasalahannya di InnoCentive, dan mencari masukan dari para pengunjung InnoCentive. Perusahaan bersedia membayar US$10.000 hingga US$ 100.000 untuk tiap solusi yang dianggap terbaik. Tentu cara ini dianggap brilian, karena para pemecah solusi biasanya bukanlah para profesional di research and development. Para penggiat hobi tertentu atau pekerja yang biasa bergelut di bidang tertentu lebih sering memiliki solusi yang tepat.

Crowdsourcing terus berkembang. Hingga kemudian lahirlah ide penggalangan dana berbasis crowd di internet, yang populer disebut crowdfunding. Salah satu situs yang populer untuk dimanfaatkan sebagai penggalangan dana adalah Kickstarter. Beragam proyek pun diajukan di Kickstarter, dari membuat perpustakaan di taman kota, pembuatan film dokumenter, hingga pembuatan game independen. Kickstarter memunculkan harapan untuk hadirnya berbagai proyek independen lain, yang tentu saja menawarkan meningkatnya kinerja tanpa intervensi pemberi donor.

Crowdsourcing, crowdfunding, dan platform berbasis user generated content bisa berkembang tentu karena dukungan kita, bagian dari crowd, sebagai pengguna. Internet bisa dibilang menjadi salah satu contoh terbaik tentang bagaimana teknologi bisa memancing penggunanya untuk lebih aktif dan berdaya guna.

Dengan semakin aktifnya peran pengguna untuk menghasilkan konten di internet, tidak heran jika majalah Time memilih “Anda” sebagai Persona Tahun Ini atau Person of the Year di 2006. Time beralasan Anda semua sebagai pengguna internet punya peran untuk berkontribusi menorehkan cerita, karya, bahkan sejarah dengan memanfaatkan platform online seperti Wiki, YouTube, MySpace, Facebook, WordPress, dan beragam situs crowdsourcing.

Pilihan Time tak salah. Perkembangan situs berbasis crowd memicu hadirnya perubahan di sejumlah kawasan. Di jazirah Arabia misalnya, media sosial dianggap sebagai api dalam sekam yang memperluas terjadinya aksi revolusi Arab Spring. Di negeri Paman Sam, muncul aksi Occupy Wall Street yang bermula dari pendaftaran domain OccupyWallStreet.org, lalu menjadi viral berkat propaganda di media sosial, forum online, dan ribuan milis. Seorang Australia bernama Julian Assange juga membuat situs Wikileaks untuk membocorkan dokumen rahasia mengenai aksi konspirasi dengan memungkinkan crowd berkontribusi sebagai pembocor.

Melihat pentingnya peran pengguna, media konvensional ikut menghadirkan kanal untuk memungkinkan konten dari pembaca. CNN meluncurkan CNN iReport, Fox News juga tak mau kalah dengan membuat uReport. Masa depan Citizen Journalism semakin terlihat.

Di Indonesia Jadi Lahan Fitnah

Indonesia juga memiliki potensi dalam pengembangan konten berbasis crowd atau user generated content. Saat ini misalnya, forum online Kaskus tercatat sebagai situs terpopuler di Indonesia. Pengembang tak perlu repot mencari materi konten, sebab para Kaskuser dengan senang hati mengisinya. Tapi tentu pengembang harus mengawasi, karena itu diperlukan Admin untuk menjaga agar konten yang mengarah ke tindak pidana bisa dicegah muncul.

Situs lain yang mendapatkan keuntungan dari crowd adalah platform blogging seperti Kompasiana. Konsep ini sebenarnya sudah dimulai oleh Politikana, yang berfokus ke tulisan politik. Sayang Politikana tidak berumur panjang, padahal popularitasnya sempat menanjak di 2009 yang merupakan tahun Pemilu.

Platform seperti Kompasiana dan Politikana sebenarnya cukup menjanjikan untuk memberdayakan crowd. Platform sejenis ini bisa dikembangkan untuk menjadi wadah pengembangan citizen journalism. Konten tulisan yang ada umumnya berbeda dengan yang ada di media mainstream, dan menawarkan tulisan yang lebih “bertaring” yang tentu sulit untuk dimuat di media konvensional.

Tapi platform ini menyimpan masalah, yaitu maraknya penggunaan nama samaran atau pseudonym. Bersembunyi di anonimitas, para pseudonym ini tidak menulis tentang reka cerita atau fiksi belaka. Celakanya, para pseudonym ini sering menulis tentang tuduhan serius, ke orang-orang yang ditulis namanya secara jelas. Berbau fitnah jelas, karena tulisan tidak pernah disertai dengan konfirmasi ke pihak yang dituduh.

Di tahun Pemilu, tulisan yang berbau fitnah semakin merekah. Tidak heran, sebab kondisi demokrasi di Indonesia baru sebatas memilih dengan pertimbangan kekurangan. Jadi tulisan fitnah lebih diminati ketimbang paparan visi misi atau program kerja jika kandidat terpilih.

Semoga fenomena fitnah ini hanya terjadi di tahun pemilu. Sebab crowd kini sudah mulai diberdayakan untuk melakukan perubahan. Misalnya saja dengan munculnya beragam petisi yang mencari dukungan dengan memanfaatkan Change.org. Beragam platform crowdsourcing pun bermunculan, menawarkan karya seperti desain grafis, fashion, ide, dan lainnya.

Melihat besarnya potensi pengguna internet di Indonesia, masih ada harapan hal-hal baik akan terjadi. Dengan demikian di empat tahun lainnya, kita mengharapkan muncul banyak platform berbasis crowd lain yang dbuat untuk memberdayakan kerumunan di dunia maya. Semoga.

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments