aikon

Adegan di film "Imitation Game"

Alan Turing, ‘Kejahatan Homoseksual’ dan Homo Homini Lupus Modern

BertuturCom – “Why dont we do cross word puzzle. It takes five minutes. Or, six,” ujar Joan Clarke. Clarke berupaya menenangkan Alan Turing yang sedang terisak.

Turing menerima pulpen dari tangan Clarke dan berusaha menuliskan huruf pada kolom teka-teki silang di koran. Tapi, tangannya gemetar. Dia tidak mampu menuliskan satu huruf pun. Turing menyerah. “Mungkin nanti saja,” kata dia kepada Clarke. 

Turing mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai Clarke yang memiliki pekerjaan dan suami, seperti yang selalu dia inginkan. Clarke menjawab bahwa tidak ada orang normal yang mampu melakukannya. Kemudian, Clarke menyemangati Turing mengenai apa yang sudah dia lakukan untuk menyelamatkan manusia lain.

Adegan itu menjadi bagian akhir film The Imitation Game. Tokoh sentralnya, Alan Turing, diperankan dengan brilian oleh Benedict Cumberbatch. Sedangkan Clarke yang merupakan mantan tunangan dan kolega Turing diperankan oleh Keira Knightley. Keduanya masuk nominasi Oscar 2015 atas penampilannya di film tersebut.

The Imitation Game merupakan biopic Alan Turing, matematikawan yang berhasil memecahkan kode Enigma, mesin komunikasi yang digunakan pasukan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Turing bekerja bersama Clarke, Hugh Alexander (Matthew Goode), John Cairncross (Allen Leech), dan Peter Hilton (Matthew Beard). Film itu menjelaskan bahwa keberhasilan tim yang dipimpin Turing membuat perang dunia kedua berakhir lebih cepat dua tahun dan menyelamatkan nyawa lebih dari 14 juta orang. Mesin yang diciptakan Turing untuk memecahkan Enigma merupakan cikal bakal komputer.

Tapi, film itu sekaligus menceritakan bahwa menghentikan perang tidak lantas membuat Turing diperlakukan sebagai pahlawan di negaranya. Sebaliknya, Turing diperlakukan seperti penjahat meski dia tidak menyakiti orang lain.

Adegan yang saya tuliskan di atas merupakan bagian cerita setelah Turing dihukum atas pelanggaran Acts of Gross Indecency. Turing mendapatkan hukuman itu setelah ia mengakui hubungan seksualnya dengan sesama jenis.

Kala itu, Turing diberi pilihan: penjara 18 bulan atau pengebirian kimia yang berefek pada pembesaran payudara. Ia memilih yang kedua. Dua tahun kemudian, Turing ditemukan meninggal karena sianida.

The Imitation Game menghadirkan ironi kehidupan Turing. Pahlawan tapi dihukum seperti kriminal.

Ketika Turing berhasil memecahkan kode Nazi, homoseksual masih dianggap sebagai sebuah kejahatan meski dia tidak menyakiti dan membunuh orang lain. ‘Kejahatan’ itu membuat Turing tidak bisa dimaafkan meski dia sudah berjasa bagi kemanusiaan.

Saya pun teringat adegan ketika Turing mendapat perlakuan tidak menyenangkan atau bully dari teman-temannya. Turing menyatakan, manusia melakukan kekerasan terhadap manusia lain karena perbuatan itu terasa menyenangkan. Cabut saja kesenangan itu maka kekerasan menjadi perbuatan yang tidak bermakna.

Mungkin itu pula yang mendasari Pemerintah Inggris menghukum Turing karena dia homoseksual dan meminta maaf 59 tahun setelahnya. Masyarakat Inggris medio 1900an menilai kekerasan terhadap homoseksual menyenangkan. Lambat laun, kekerasan itu menjadi perbuatan yang hampa alias tidak bermakna.

Karena itu, Pemerintah Inggris pada akhirnya harus meminta maaf atas perlakuan terhadap Turing pada 2013. Maaf yang datang 59 tahun setelah Turing meninggal. Maaf yang terlambat.

Homo Homini Lupus

Saya sempat berpikir bahwa kriminalisasi seperti yang dialami Turing hanya terjadi di masa lalu. Saya sempat berpikir hal serupa tidak akan mungkin terjadi pada masa kini ketika setiap orang bisa mendapatkan informasi mengenai hal yang berbeda. Ketika orang terbiasa membaca atau mendengar pendapat yang tidak sama dengan pendapatnya.

Tapi, saya salah. Apa yang dialami Turing muncul beberapa hari belakangan ini dalam bentuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pekan lalu, Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa tentang gay, lesbian, sodomi, dan pencabulan.

Fatwa itu menyatakan bahwa hubungan seksual hanya dibolehkan untuk suami istri. Suami-istri, yaitu pasangan laki-laki dan wanita berdasarkan pernikahan yang sah secara syariat. Juga, pelampiasan hasrat seksual kepada sesama jenis hukumnya haram.

Fatwa ini kemudian memunculkan adanya dukungan untuk menghukum mati homoseksual, atau bahasa yang mereka gunakan ‘penyimpang seksual’. Bahkan, ada seseorang terpelajar dan pendapatnya diikuti oleh orang banyak menyatakan bahwa ada manusia lain yang layak dibunuh dengan cara dilemparkan dari atas gedung.

Saya tidak hendak mendebat orang-orang yang mengeluarkan fatwa tersebut. Sebab, mereka adalah orang-orang yang memahami hukum agama. Sedangkan saya, pemahaman saya mengenai agama sangatlah minim.

Saya hanya ngeri membayangkan legalisasi pembunuhan atau kekerasan atas manusia lain. Padahal, manusia itu tidak melakukan apapun yang menyakiti atau membunuh manusia lain. Kengerian lainnya, yaitu diskriminasi atas manusia lain.

Fatwa itu mungkin tidak akan pernah diterapkan di Indonesia. Tapi, fatwa itu menunjukkan diskriminasi. Fatwa itu membuat orang-orang merasa memiliki landasan atau alasan untuk tidak memperlakukan sesama manusia lain dengan lebih manusiawi.

Kengerian itu sama yang saya rasakan setelah menonton Imitation Game. Bagi saya, cerita Turing terlalu menyedihkan. Saya sulit memahami seseorang, yaitu Turing, dihukum (kemudian meninggal) meski dia tidak menyakiti orang lain.

Seorang teman berujar, film itu hanya mengangkat berdasarkan kisah nyata. Kisah yang dialami Turing. “Homo homini lupus,” kata teman saya mengutip pepatah latin.

Mungkin teman saya benar, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Karena itu, manusia akan mencari kambing hitam, kemudian mencari alasan untuk melakukan kekerasan terhadap si kambing hitam.  (anm)

More from aikon