Foto: wikimedia.org

Brutus dalam Drama Runtuhnya Orde Baru 1998

Foto: wikimedia.org

 

BertuturCom

15 Maret 44 SM

Et tu, Brute?” sergah Julius Caesar dengan suara lemah. Kaisar Romawi yang termasyhur itu terkejut ketika melihat wajah orang kepercayaannya, Brutus, menikamnya dari belakang. Brutus mengkhianatinya. 

Legenda pengkhianatan terbesar sepanjang sejarah yang direka kembali oleh William Shakespeare dalam bentuk drama ini seakan terus berulang. Di zaman yang berbeda, aktor-aktor yang berbeda, dan ruang yang berbeda pula. Terlebih lagi dalam tatanan politik: tak ada kawan dan lawan yang abadi selain kepentingan.

***

Syahdan, kisah bermula pada 18 Januari 1998, ketika ada ledakan bom di rumah susun di kawasan Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Bom yang dirancang untuk melawan rezim Soeharto itu meledak tak sengaja saat dirakit. Dalam peristiwa ini, Agus Priyono alias Agus Jabo yang merupakan anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), salah satu jaringan Partai Rakyat Demokrat (PRD), ditangkap.

Pascaledakan, ditemukan dokumen yang kabarnya berisi LB Moerdani, Megawati Soekarnoputri, lembaga CSIS dan abang-adik Jusuf Wanandi dan Sofjan Wanandi mendanai gerakan PRD untuk menggulingkan Soeharto. Dalam penyelidikan peristiwa ledakan ini, orang-orang penting tersebut membantah terlibat.

Bersamaan dengan itu, beberapa hari setelah peristiwa ledakan, Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen Prabowo Subianto menghadap Presiden Soeharto. Presiden memberinya daftar nama-nama aktivis Pro-Demokrasi (prodem) yang perlu ‘diamankan’.

‘Pengamanan’ aktivis ini pun dimulai pada 2 Februari 1998 hingga Mei 1998. Sebanyak 22 aktivis Pro Demokrasi, Pro Megawati, PRD, dan SMID dilaporkan hilang. Namun, hanya sembilan aktivis yang kembali. Tiga belas aktivis lainnya hilang hingga kini.

Siapa pelakunya?

Berbagai versi muncul. Mulai dari rivalitas Danjen Kopassus Mayjen Prabowo Subianto dan Pangkostrad Letjen Wiranto, hingga keterlibatan orang kepercayaan Presiden Soeharto yang memiliki klik dengan Prabowo Subianto, Jenderal (Purn) LB Moerdani alias Benny Moerdani, disebut berada di balik penculikan para aktivis ini.

Siapa pun pelakunya, yang bertanggung jawab tetaplah militer secara struktural, juga setelah terungkapnya keberadaan Tim Mawar. Tim Mawar merupakan tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup IV, TNI AD. Sebanyak 11 anggota Tim Mawar dibawa ke pengadilan Mahkamah Militer Tinggi II pada bulan April 1999 terkait dengan penculikan para aktivis prodem ini.

Hasil mengutak-atik daftar para penguasa militer di masa kritis ini, hanya dua nama yang selalu mendapatkan jabatan tinggi untuk bertanggung jawab secara struktural: Prabowo dan Wiranto. Selebihnya, hanya selintas lalu.

Sejak Desember 1995 hingga 20 Maret 1998, Prabowo Subianto menjabat sebagai Danjen Kopassus. Setelah itu, ia menjabat sebagai Pangkostrad hingga ia dicopot pada 22 Mei 1998.

Sementara Wiranto, pada 4 April 1996 hingga 20 Juni 1997 menjabat sebagai Pangkostrad, kemudian paruh kedua 1997 jabatannya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Awal 1998 ia menjabat sebagai Panglima ABRI. Dan, mulai 14 Maret 1998 hingga 26 Oktober 1999 ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan merangkap Panglima ABRI.

Artinya, meski Prabowo melakukan operasi tanpa sepengetahuan, Wiranto turut bertanggung jawab sebagai atasannya karena sistem komando.

Untuk menentukan siapa yang bersalah, tentu itu hanya bisa ditentukan oleh pengadilan, yang semoga saja bisa segera dilakukan dengan dibentuknya Pengadilan Hak Asasi Manusia, AdHoc atau permanen. Adapun tulisan ini berusaha memaparkan sejumlah kisah pengkhianatan yang terjadi di era runtuhnya Orde Baru.

Tiga orang menjadi tokoh sentral dalam drama layaknya Brutus yang menikam Caesar, yaitu Soeharto, Prabowo dan Wiranto. Tentu saja ada karakter lain yang mewarnai kisah pengkhianatan, dalam hal ini adalah Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani (Benny) dan Burhanuddin Jusuf Habibie. Anak-anak Soeharto juga masuk dalam rangkaian cerita. Berikut nukilannya:

Prabowo:

Pada awal tahun 1998, Danjen Kopassus ini masih sangat berkuasa. Selain dekat dengan Presiden Soeharto, putra Soemitro Djojohadikoesoemo ini adalah menantu RI-1. Karir militernya terhitung cepat. Banyak jenderal yang tak suka dengan hal itu.

Namun, setelah ia menerima ‘mandat’ dari Presiden Soeharto untuk ‘mengamankan’ para aktivis yang diduga membahayakan keamanan, sang mertua tak lagi memercayainya. Alasannya, rumah tangga Prabowo dan anak keempat Presiden Soeharto tak mulus. Kepercayaan Soeharto beralih ke Pangkostrad Letjen Wiranto. Soeharto mempercayakan keamanan negara ini pada atasan Prabowo tersebut.

Sejak itu, kekuasaan Prabowo mulai turun. Tudingan pun banyak yang mengarah kepadanya, termasuk melakukan penculikan para aktivis prodem. Memang, pada akhirnya, Prabowo mengaku menculik sembilan aktivis prodem.

Informasi tentang perintah Soeharto kepada Prabowo untuk ‘mengamankan’ para aktivis diungkap mantan atasan Prabowo yang juga bekas Danjen Kopassus, Jenderal (Purn) Agum Gumelar. Dalam sebuah wawancara di Metro TV, Agum mengatakan dalam pertemuan di DPP Pepabri, Prabowo mengaku diperintah Soeharto untuk menculik para aktivis. Tapi Prabowo bersikeras sembilan aktivis yang diculik telah ‘dikembalikan’.

Selain penculikan, tudingan lainnya adalah rencana kudeta terhadap Habibie yang baru saja menggantikan Soeharto sebagai presiden. Isu kudeta ini disebarkan sendiri oleh Habibie.

Dilansir dari Jawa Pos tanggal 28 Februari 2000, pada 22 Mei 1998, sesudah salat Jumat, saat berada di Markas Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) Prabowo ditelepon Mabes AD. Prabowo diminta menyerahkan posisinya sebagai Pangkostrad.

Merasa ada yang kurang beres, saat malam tiba, Prabowo menghadap Presiden Habibie di istana, menanyakan pencopotan jabatannya. Prabowo pun menyerahkan senjatanya kepada petugas protokoler, karena begitu prosedurnya. Habibie sendiri di buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, mengaku lega ketika melihat Prabowo tanpa senjata. Karena ini berarti Prabowo tak lagi memiliki diperlakukan secara istimewa.

Namun, pada 22 Februari 1999, kepada sejumlah petinggi pers di acara Forum Asia-German Editors di Istana Merdeka, Habibie bercerita bahwa Prabowo berupaya mengepung dirinya. Habibie mengaku keluarganya terancam malam itu dan nyaris diungsikan. “Tidak usah ditutup-tutupi, kita tahulah yang memimpin konsentrasi pasukan itu, orangnya Prabowo Subianto,” kata Habibie berapi-api.

Habibie mengaku diberi tahu Wiranto soal rencana kudeta itu. Kudeta? Rasanya tak mungkin Prabowo melakukan hal itu. Sebab, Prabowo adalah orang terdekat Habibie. Mantan Menteri Riset dan Teknologi ini malah menganggap Prabowo sudah seperti anak sendiri. Prabowo pula orang pertama yang memberi tahu Habibie bahwa pengganti Soeharto adalah sang wakil presiden. Karena itu dalam rubrik “Wawancara Khas” di Majalah Panji, Prabowo merasa dikhianati Habibie.

Menariknya, kepada Sidang Komisi I, Wiranto seperti membela Prabowo dan membantah ucapan Habibie. Wiranto mengatakan tidak ada upaya kudeta. Konsentrasi pasukan yang dimaksud Habibie disebut sebagai proses konsolidasi pasukan.

Wiranto:

Cuaca politik yang panas menerpa Jakarta menjelang rencana Amien Rais mengumpulkan massa di Kawasan Monas pada 19 Mei 1998. Dalam rapat perwira tinggi militer yang dipimpin Wiranto untuk mengantisipasi acara itu, Prabowo yang ikut dalam rapat tersebut sempat mendengar ucapan mengejutkan dari Wiranto.

“Rapat yang dipimpin Wiranto mengatakan bahwa perintah yang dibuat adalah mencegah masuknya para pendemo dengan segala cara (at all cost). Saya bertanya berkali-kali apa maksud perintah itu. Apakah akan digunakan peluru tajam. Dia (Wiranto) tidak memberikan jawaban jelas,” tutur Prabowo kepada harian Jawa Pos tahun 2000 silam.

Mantan Panglima ABRI ini memang orang terdekat Presiden Soeharto. “Kedekatan Wiranto dan Soeharto tampak terlihat sejak meninggalnya ibu negara pada 28 April 1996,” begitu kata Jusuf Wanandi dalam bukunya yang berjudul Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998. Wiranto secara sigap mengatur semua protokol dan persiapan pemakaman Tien Soeharto.

Setelah Soeharto tak mempercayai lagi menantunya, Wiranto diduga mendapatkan mandat dari Soeharto untuk ‘mengamankan’ para aktivis prodem. Prabowo merasa sakit hati, terlebih lagi ia dicopot dari jabatannya dan juga diberhentikan dari TNI di era Habibie.

Prabowo pun menyerang Wiranto dengan isu rivalitas. Bahkan sang ayah, Soemitro Djojohadikoesoemo, di buku Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, menuding Wiranto menghabisi karir militer Prabowo.

Soeharto:

Presiden kedua RI ini tak pernah memercayai siapapun, termasuk sang menantu, Prabowo. Ia hanya menaruh kepercayaannya kepada Benny Moerdani. Bahkan di dalam buku Pak Harto: Untold Stories, kepercayaan Soeharto kepada Benny sering diungkap dalam sebuah kalimat: “Benny yo wis ngerti” (Benny sudah mengerti).

Namun, Benny Moerdani dituding bakal melakukan kudeta. Menurut Jusuf Wanandi, dugaan ini digosok oleh putra-putri Soeharto yang jengah dengan pengawasan Benny Moerdani terhadap mereka. Anak kedua Soeharto, Sigit Harjojudanto, pernah ditegur Benny karena menghabiskan US$ 2 juta untuk berjudi.

Tidak hanya anak Soeharto, Jusuf Wanandi menulis Benny disebut memiliki ‘sengketa’ dengan orang lain di lingkaran politik Soeharto. Misalnya BJ Habibie, yang merasa bisnis persenjataan dan teknologi dihambat Benny. Ada juga Prabowo, yang tidak senang karena Benny menariknya dari Timor Timur. Prabowo mengeluhkan Benny kepada Soeharto. Menurut Prabowo, Benny tak dapat dipercaya.

Pelan-pelan, Soeharto menaruh kecewa terhadap Benny. Tak hanya Benny, Soeharto juga disebut tidak percaya kepada Habibie yang dianggapnya pernah mengadu domba dia dengan Benny. Begitu juga terkait peristiwa penculikan, Soeharto tak lagi memiliki orang kepercayaan.

Kepercayaan itu tampaknya mulai diberikan kepada Wiranto, yang juga pernah menjadi ajudannya. Tapi ada hal menarik, Salim Said dalam buku Dari Gestapu ke Reformasi menyebut Wiranto sebagai ‘binaan’ Benny Moerdani. Bahkan menurut Salim Said, Wiranto diminta untuk tidak terlihat sebagai ‘orangnya Benny’, sehingga bisa mendapatkan kepercayaan Soeharto.

Sejumlah dugaan pun menyebut Soeharto memberikan daftar nama aktivis prodem tak cuma ke Prabowo, tapi juga Wiranto. Tapi beberapa hari lalu Wiranto memberikan konferensi pers dan mengatakan kalau penculikan dilakukan Prabowo yang dilakukan atas inisiatif pribadi dan bukan perintah atasan. Alasan itu juga yang menyebabkan Prabowo dipecat.

Jika memang Wiranto dianggap sebagai ‘dalang’ untuk melakukan kudeta terhadap Soeharto, tentu ini sulit dibuktikan. Sebab di akhir era Orde Baru, Wiranto tidak pernah terlihat melakukan gerak-gerik mencurigakan untuk mengambil-alih kekuasaan.

Proses transisi berjalan dengan penyerahan kekuasaan ke Wakil Presiden BJ Habibie, tanpa intervensi Wiranto melalui kekuatan militer. Padahal, Wiranto mendapatkan instruksi presiden (Inpres Nomor 16 Tahun 1998) dari Soeharto pada 18 Mei 1998 untuk “mengambil segala tindakan pengamanan yang dianggap perlu apabila situasi berubah menjadi chaos dan tak terkendali,” mengutip Soeharto dari buku Pak Harto, Habis Manis Sepah Dibuang.

Jadi, siapakah yang menjadi tokoh Brutus dalam drama 1998 ini? (gal)

via A Journalist’s Journal

The following two tabs change content below.
bunga.jayadimansyah@gmail.com'
Pengembara yang terjebak di masa lalu. Ikuti tulisan lain di http://jurnalnyajurnalis.wordpress.com/
bunga.jayadimansyah@gmail.com'

Latest posts by Bunga Pertiwi (see all)

Comments

comments