Foto: Getty Images/BusinessInsider.com

Bintang Terang James Rodriguez

Foto: Getty Images/BusinessInsider.com

BertuturCom – Stadion Maracana di Rio de Jeneiro, Brazil, pernah menorehkan kenangan manis bagi tim nasional Uruguay. Di Piala Dunia 1950, Maracana menjadi saksi kehebatan Uruguay saat mengalahkan tuan rumah Brazil 2-1, sekaligus menorehkan gelar juara dunia kedua di hadapan ratusan ribu suporter tuan rumah. Tapi tuah Maracana tak lagi berlaku 64 tahun kemudian. Di Piala Dunia 2014, Uruguay takluk oleh Colombia.

Di sisi lain, Maracana menjadi saksi kehebatan bintang baru yang sinarnya begitu benderang di Piala Dunia 2014: Gelandang serang Colombia dengan nomor punggung 10, James Rodriguez. Dua gol pemain AS Monaco ini menghempaskan Uruguay yang bermain tanpa striker andalan Luis Suarez. Otomatis James (dengan lafal bacaan: Ha-Mez), menjadi Man of the Match, terutama berkat gol ajaib yang diciptakan di menit ke-28. 

Dikelilingi 5 pemain Uruguay, James memperlihatkan perpaduan ketenangan dan skill tinggi ketika menguasai bola dengan dada, hasil umpan sundulan Abel Aguilar. Setelah menempatkan bola sejajar dengan perut, badan James memutar searah jarum jam. Sebelum bola jatuh ke tanah, kaki kiri pemain berusia 22 tahun ini menyepaknya dengan keras ke arah gawang. Bola lalu meluncur deras melewati dua pemain bertahan Uruguay yang gagal memblokir tendangan. Gol ajaib tercipta. Ratusan juta pasang mata terbelalak, inilah gol terbaik sepanjang turnamen berlangsung.

James Rodriguez sontak menjadi sorotan. Ini merupakan gol kelima dari empat pertandingan yang dimainkan ‘otak’ permainan Colombia. Bukan kali ini saja gol cantik dicetaknya. Sebab dalam pertandingan melawan Jepang, James memperlihatkan kejeniusan men-chip bola setelah asik bergoyang dan melumpuhkan bek Jepang dengan gocekannya.

Tentu Piala Dunia 2014 bukan panggung pertama bagi James Rodriguez untuk memamerkan talenta yang dimiliki. Lahir di kota kecil Ibague, pemain yang namanya terinspirasi dari James Bond ini mendapatkan kesempatan lebih luas ketika dikontrak klub asal Argentina, Atletico Banfield. Lekukan dan gaya bermainnya dianggap mirip pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo. Tak heran saat berusia 18 tahun, “James Bond of Banfield” ini dilirik klub Serie A, Udinese. Sayang Banfield tak melepas James karena uang yang diajukan dianggap tak sebanding dengan talenta yang dimiliki.

Baru pada musim 2010-2011, James dilepas ke FC Porto seharga 5,1 juta Euro. Di negeri asal Ronaldo ini pula James mulai menunjukkan permainan kelas dunia. Bermain bersama senior di timnas Colombia Radamel Falcao dan Freddy Guarin, serta striker Brazil Hulk, James membawa Porto menjuarai liga lokal di musim 2010-2011.

Peran James semakin sentral ketika Guarin hengkang ke Inter Milan, Falcao ke Atletico Madrid, serta Hulk ke Zenit St Petersburg. Setelah beberapa musim dan mendapatkan tiga gelar juara di FC Porto, James ditarik klub Prancis, AS Monaco, dengan biaya transfer 45 juta Euro. Angka ini menjadikan James pemain Porto dengan biaya transfer terbesar kedua setelah Hulk.

Di Monaco, James Rodriguez kembali bertemu Falcao, faktor kenyamanan ini rupanya yang menjadikan James mudah beradaptasi. Pelatih Claudio Ranieri juga memberi kesempatan kepada James untuk memiliki peran sentral. Kepercayaan Ranieri tidak diberikan secara serampangan, tentu. Karena kapten timnas Colombia U-20 ini bisa bermain apik di berbagai posisi. Ranieri bisa menempatkan James sebagai gelandang serang sekaligus playmaker di tengah, atau melebar sebagai pemain sayap di sisi kiri atau kanan.

Dari 34 pertandingan yang dimainkan, James mencetak 9 gol dan 11 assist. Debut yang terbilang impresif, karena ini menempatkannya sebagai pencetak assist terbanyak di Ligue 1. Meski tanpa piala, tapi permainan James Rodriguez di Monaco dianggap sebagai aksi terbaik di Ligue 1 oleh berbagai media. Tak heran jika Jose Pekerman memanggil James ke timnas senior, malahan memberikannya nomor punggung legendaris: 10.

Dengan nomor punggung 10 di timnas Colombia, James Rodriguez pun disematkan sebagai titisan legenda Colombia, Carlos Valderrama. Gaya permainan keduanya memang sama: Playmaker elegan dengan tingkat akurasi passing yang nyaris sempurna, selalu bergerak membuka ruang, dan baru pamer skill individu saat serangan mulai terasa buntu.

Colombia akan berhadapan dengan Brazil di babak perempat final. Jajaran bek Brazil semacam David Luiz dan Thiago Silva tentu tidak akan memberi ruang gerak yang lapang untuk James. Jika Colombia kalah, pesona James tak akan redup. Klub-klub besar Eropa sudah menyiapkan kocek untuk mendapatkan jasanya. Di antaranya adalah musuh bebuyutan Barcelona dan Real Madrid.

“Tentu sebuah mimpi untuk bisa bermain di Spanyol, salah satu liga terbaik di dunia,” kata James dikutip dari Telegraph. Tapi klub mana yang lebih disukai? “Saya lebih memilih Real Madrid,” ucap James.

Tapi bagaimana jika akhirnya Colombia sukses mengalahkan Brazil, masuk ke final, bahkan berhasil menjadi juara? Jika James terus cemerlang, hanya satu kepastian: nilainya terus bertambah. Jika harga James terus meroket, Udinese, juga Manchester United dan Tottenham Hotspur yang memburunya selama dua musim terakhir, akan menyesal tidak mendapatkan James jauh lebih dulu.

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments