Big Hero 6 (foto: Walt Disney Pictures/ign.com)

Big Hero 6, Akuisisi Marvel dan Transformasi ala Disney

foto: Walt Disney Pictures/ign.com

BertuturCom – Mungkin pernah ada suatu fase dalam hidup kita, ketika membayangkan padu padan Marvel dengan Disney sebagai ide paling gila dalam sejarah reka cerita. Keduanya memang memiliki kesan dan citra yang bertolak belakang.

Disney kadung identik dengan dunia peri, atau kisah putri yang sebatas ditakdirkan menjadi permaisuri. Sedangkan Marvel menawarkan imajinasi karakter yang penuh beban psikologi: tentang mutan yang menyimpan dendam dan amarah, atau pahlawan super yang dipaksa bersembunyi di balik topeng dengan alasan melindungi orang yang dicintai.

Namun, dinamika selera manusia (baca: pasar) mempertemukan keduanya di pertautan sejarah. Terjadi ketika Disney memutuskan untuk membeli Marvel dengan kocek dana sebesar US$ 4 miliar pada 2009 silam. Bukan relasi yang setara, sebab Disney lebih memiliki kuasa.

Wajar ketika saat itu banyak yang bertanya, apa yang akan dilakukan Disney terhadap Marvel. Meski puluhan tahun sudah berlalu sejak Disney menyajikan cerita putri macam Cinderella atau Aurora sang Putri Tidur, tapi Disney di periode 2000an masih kental dengan nuansa girlie. Misalnya saja serial Hannah Montana yang berhasil menjadikan Miley Cyrus sebagai ikon Disney untuk pangsa pasar remaja.

Kekhawatiran ini muncul saat laman Screenrant memberikan analogi yang masuk akal. Disney ditakutkan membeli sedan Rolls Royce mewah untuk dimodifikasi menjadi truk es krim, tentu dengan cat mencolok yang menarik minat anak-anak.

Ternyata, misteri mengenai modifikasi apa yang akan dilakukan Disney terhadap Marvel terjawab lima tahun setelah akuisisi, atau tahun ini: Ketika Disney merilis Big Hero 6, film animasi bergaya Disney yang diadaptasi dari komik terbitan Marvel.

Sebelum ‘disulap’ menjadi barisan animasi Disney, memang tidak banyak yang mengenal komik buatan Steven T. Seagle dan Duncan Rouleau ini. Strategi ini memang sengaja diambil, tentu dengan kekhawatiran Disney gagal melakukan rebranding para pahlawan super Marvel yang dikenal publik, semisal Captain America, Hulk, Iron Man, Spider-man, atau salah satu karakter di X-Men.

Jadi tidak banyak protes ketika Disney melakukan modifikasi gila-gilaan terhadap karakter versi komik. Misalnya saja Baymax. Versi komik menyebut Baymax sebagai robot super-pintar yang dibuat menyerupai monster. Hiro Takachiho membuat Baymax dengan fungsi layaknya bodyguard, yang kemudian berkembang menjadi figur ayah (yang tidak pernah dimiliki Hiro) berkat kecerdasan buatan yang diprogram di dalamnya.

Tapi Disney mengganti karakter menyeramkan itu dengan robot kenyal serupa marshmallow. Awalnya, Baymax dibuat oleh Tadashi Hamada, kakak Hiro Hamada, sebagai perawat masa depan. Karena itu Baymax tidak bisa melakukan kekerasan karena diprogram sebagai penolong. Bentuk kenyalnya memang disengaja agar tidak melukai siapapun.

Karakter lain dalam Big Hero 6 pun dimodifikasi dengan penuh keceriaan. Misalnya saja Honey Lemon. Jika versi komik menyebut Honey Lemon sebagai intelijen dengan kemampuan tempur terbaik (serupa Black Widow di The Avengers), maka Honey Lemon versi Disney berubah menjadi ahli kimia yang bisa bersenjatakan cairan kimia warna-warni. Karakter lain seperti GoGo Tomago, Wasabi-No-Ginger dan Fredzilla pun dibuat lucu, konyol dan memiliki hubungan yang menggemaskan satu sama lain.

Jangan bandingkan dengan karakter buatan Marvel. Jika Marvel menampilkan cerita penuh kekerasan yang bahkan terlihat dari raut muka karakternya (misalnya Wolverine), maka Big Hero 6 ala Disney menghadirkan cerita kepahlawanan di San Fransokyo, gabungan San Fransisco dengan keunikan lanskapnya dengan Tokyo dan segala kecanggihannya.

Hal menarik lain yang ditampilkan, Disney mulai konsisten untuk melakukan dekonstruksi karakter antagonis. Gaya dekonstruksi ini sebenarnya sudah terlihat sejak menggambarkan sisi lain seorang Snow Queen dalam wujud Elsa di Frozen, atau melihat kisah Sleeping Beauty dari sudut pandang Maleficent.

Nah, di Big Hero 6, tokoh antagonis juga digambarkan memiliki alasan untuk berbuat kejahatan. Cara Disney memberikan pemahaman bahwa kebaikan dan kejahatan bukanlah produk instan, melainkan sebuah proses.

Pemahaman lama mengenai cinta layaknya Cinderella menanti Prince Charming juga berubah.  Jika kita perhatikan film besutan Pixar, yang juga jadi unit bisnis sendiri setelah diakusisi Disney, Disney mulai memunculkan pemahaman bahwa cinta bukan sebuah penantian, melainkan perjuangan, pengorbanan dan petualangan, seperti yang ditampilkan Cars, Up atau Toy Story

Bukan tidak mungkin akan ada modifikasi lain terhadap komik Marvel yang akan dilakukan Disney, tentu dengan dekonstruksi yang mulai dilakukan Disney. Mungkin tidak hanya Marvel, tapi juga unit bisnis lain yang terbentuk dari proses akuisisi. Salah satu yang terdekat dan paling membuat penasaran: Apa yang akan dilakukan Disney terhadap Star Wars?

Seperti kita tahu, bisa jadi banyak hal yang dianggap tidak memenuhi nilai-nilai keluarga ala Disney dari enam film Star Wars sebelumnya. Misalnya saja, Luke Skywalker nyaris incest dengan Putri Leia saat mereka berciuman.

Di dunia fandom film besutan George Lucas tersebut, fans beranggapan Leia mencium Luke hanya untuk membuat Han Solo cemburu (dan tidak tahu kalau Luke saudara kandungnya). Namun jika Disney tetap memunculkan wacana yang memancing kontroversi, tentu ini akan berbahaya bagi citra perusahaan.

Tapi selama ini citra Disney memang kuat. Lihat saja Miley Cyrus yang berusaha lepas dari bayang-bayang citra Disney dan ‘membunuh’ Hannah Montana. Big Hero 6 pun kembali memperlihatkan betapa digdaya citra Disney.

Jadi saat lima tahun lalu banyak orang membayangkan Marvel hanya digunakan untuk mengambil segmen lelaki remaja hingga dewasa muda (teens to young adults), Disney membuktikan sebaliknya. Ternyata Marvel tetap memiliki aset untuk diubah dan mendukung citra Disney yang identik dengan nilai keluarga.

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments