Logo Apple (Foto: ipadwallpaperhd.com)

Berakhirnya Era Apple Sebagai Pencipta Tren

BertuturCom – Sepanjang hayatnya, Steve Jobs memang dikenal sebagai seorang pemberontak. Karena itu ketika mendirikan Apple bersama Steve Wozniak, Jobs menghadirkan semangat revolusioner sebagai bagian dari kultur perusahaan. Sebagai bagian dari generasi bunga yang dibesarkan dengan slogan anti-kemapanan, Jobs ikut menghadirkan semangat ini ke seluruh pegawai Apple. Salah satu yang dilakukan Jobs adalah dengan membuat citra korporasi besar pesaing Apple sebagai ikon kemapanan yang harus dihancurkan hingga lengser keprabon.

Mengutip biografi berjudul Steve Jobs yang ditulis Walter Issacson, IBM yang menjadi penguasa pasar komputer di periode ’80an dianggap cocok untuk menjadi “kekuatan jahat” yang harus dihancurkan. Steve Jobs bahkan menggambarkan dirinya bagai seorang kesatria Jedi di Star Wars untuk memerangi IBM yang dianggap akan menghadirkan kegelapan bagi umat manusia.

“Jika, karena berbagai alasan, kami (Apple) melakukan kesalahan dan IBM menang, perasaan pribadi saya mengatakan kami akan memasuki Zaman Kegelapan (Dark Ages) bagi komputer selama dua puluh tahun ke depan,” ucap Steve Jobs dikutip dari buku Steve Jobs. Alasan Steve Jobs: IBM tidak bekerja untuk inovasi.

Namun Steve Jobs dan Apple tidak menghadirkan perlawanan terhadap IBM layaknya medan perang Baratayuda. Sebaliknya, Apple melakukan cara kreatif. Salah satunya dengan menghadirkan iklan “Welcome IBM, Seriously” pada 21 Agustus 1981, tepat di hari peluncuran perdana komputer personal (PC) buatan IBM. Dalam iklan itu Apple memang meledek IBM yang dianggap ketinggalan jauh dari Apple. Perusahaan berlogo apel tergigit itu memang telah membuat Apple I sebagai PC pertamanya pada 1 April 1976 dan mulai dijual ke publik pada 1977, empat tahun lebih cepat ketimbang IBM.

Steve Jobs memang bukan hanya dikenal sebagai seorang pemberontak, tapi juga inovator. Justru inovasi yang menjadikan Apple menjadi salah satu perusahaan paling bernilai saat ini. Bukan hanya memulai era-PC, Steve Jobs dan Apple pula yang sukses menghadirkan era baru beberapa dekade kemudian: era pasca-PC (post-PC era).

Mengutip New York Times, istilah “era pasca-PC” memang pertama kali digunakan oleh David D. Clark pada 1999. Istilah ini menunjuk pada heterogennya perangkat untuk terhubung via jaringan internet, dan tak bergantung kepada PC. Namun setelah Apple memperkenalkan iPad pada 2010, Steve Jobs secara sesumbar mengatakan iPad menjadi penanda berakhirnya era PC dan memulai era pasca-PC.

Mungkin wajar jika Steve Jobs mengklaim Apple sebagai pemukul gong berakhirnya era PC. Sebelum merilis iPad, di tahun 2007 Apple sudah memperkenalkan iPhone yang tidak hanya berfungsi sebagai telepon, tapi juga perangkat revolusioner untuk terkoneksi ke internet. iPhone juga menjadi perangkat yang menciptakan tren layar sentuh, tren yang menghancurkan BlackBerry yang identik dengan keyboard QWERTY.

Dengan kemunculan iPhone dan iPad, dan menyusul kemudian perangkat berbasis sistem operasi Android yang dikembangkan Google, era pasca-PC semakin berkembang dengan sistem penyimpanan berbasis komputasi awan (cloud). Ketergantungan akan PC memang terbukti semakin berkurang.

Pasca-Jobs

Sayangnya era pasca-PC juga menjadi dimulainya era Apple pasca-Steve Jobs. Pergulatan Steve Jobs melawan kanker selama bertahun-tahun berakhir pada 5 Oktober 2011, sang jenius meninggal dunia. Setelah Steve Jobs tidak lagi ada, Apple harus berjuang mempertahankan DNA inovasi Apple yang telah dibenamkan Steve Jobs selama bertahun-tahun.

Sejumlah produk Apple yang dirilis pasca-Jobs memang seperti menjadi indikasi kesulitan Apple untuk mempertahankan inovasi dan sebagai pencipta tren. Ketika Apple merilis iPhone 5 dengan layar baru berukuran 4 inci di September 2012, mulai banyak yang memprediksi Apple akan ikut-ikutan tren smartphone berlayar besar. Tapi ketika itu iPhone 5 muncul dengan desain yang lebih ramping. Dengan demikian Apple tetap mempertahankan filosofi desain iPhone sebagai perangkat yang nyaman digunakan dengan satu tangan, sesuai keinginan Steve Jobs.

Tapi citra Apple sebagi pencipta tren luluh lantak ketika Apple merilis iPhone 6 dan iPhone 6 Plus, pekan lalu. Dua iPhone ini memang memperlihatkan evolusi iPhone menjadi perangkat yang lebih besar, iPhone 6 dengan layar 4,7 inci dan iPhone 6 Plus denganĀ  layar 5,5 inci. Ketika menghadirkan iPhone dengan layar lebar, Apple seperti menganggap usang filosofi desain perangkat yang nyaman digunakan satu tangan yang lama dimilikinya. Ini juga berarti Apple mulai mengikuti tren layar besar yang sudah lama menjadi jualan pesaingnya, seperti Samsung dan HTC.

Apple juga seperti memaksa Steve Jobs untuk ‘menelan ludah’. Sebab dalam konferensi pers pada pertengahan Juli 2010, Jobs pernah mengatakan “tak akan ada yang membeli itu (smartphone berlayar besar)”. Secara sempurna, Samsung pun menyerang Apple dengan kutipan yang pernah diucapkan Steve Jobs dalam iklan terbarunya. Selain menyindir iPhone baru, iklan ini juga untuk mempromosikan Galaxy Note 4 yang telah diperkenalkan sebelum iPhone 6 dan iPhone 6 Plus.

Apple juga dianggap tidak memenuhi ekspektasi ketika memperkenalkan Apple Watch. Jam tangan pintar besutan Apple itu dianggap tak memiliki keunggulan dari segi fitur dan fungsi. Apple Watch memang hadir dengan desain menarik yang disertai variasi strap, tapi fitur dan konektivitasnya dianggap sama seperti Samsung Galaxy Gear.

Apple Watch juga menjadi bukti kalau Apple lebih memilih untuk ikut tren perangkat yang dikenakan atau wearable device. Sebelumnya, tren wearable device muncul ketika Google memperkenalkan kacamata pintar Google Glass, serta dirilisnya jam tangan pintar yang dikembangkan berbagai pabrikan. Selain Samsung Galaxy Gear, terdapat juga Sony Smartwatch, LG G Watch, dan Asus ZenWatch.

Padahal, ketimbang mengikuti tren wearable device, Apple bisa lebih fokus mengembangkan perangkat baru untuk mendukung era pasca-PC. Dalam biografi yang ditulis Walter Isaacson, Steve Jobs sendiri pernah mengungkap keinginan untuk menghadirkan televisi pintar.

“Yang akan tersinkronisasi secara tak terbatas dengan semua perangkat (Apple) dan iCloud. (Televisi pintar) itu akan memiliki antarmuka pengguna (user interface) yang paling sederhana yang bisa Anda bayangkan,” kata Jobs kepada Isaacson.

Mungkin Apple ingin membuktikan diri dan lepas dari bayang-bayang Steve Jobs. Tapi ironisnya, tanpa Steve Jobs, Apple terancam menjadi seperti IBM: perusahaan besar yang menjadi musuh berbagai perusahaan lain karena dominasinya, namun tak jua menghadirkan inovasi baru.

Berbeda dengan IBM, Apple masih memiliki keunggulan: fanatisme para fanboy. Fanatisme ini bisa dipertahankan jika Apple mempertahankan citra penghasil produk yang keren dan stylish. Cinta fanboy juga akan bertahan selama Apple masih unggul dalam hal ekosistem aplikasi (meskipun Apple kalah jauh dalam ekosistem perangkat).

Tapi jika para fanboy itu sadar kalau fitur yang dimiliki Apple ternyata tidak istimewa, ketika itulah ‘kiamat kecil’ bagi Apple dimulai. (gal)

The following two tabs change content below.
Pemimpi siang bolong; Pencinta film; Korban absurditas

Comments

comments