giantseawall

Bagaimana Kalau “Giant Sea Wall” Bukan Solusi untuk Jakarta?

foto: Waterfronts NL/floodlist.com

BertuturCom – Ribut-ribu reklamasi ini membuat saya kerap terpaku mengamati gambar proyek pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di internet. Tanggul itu bakal dibangun melengkung di Teluk Jakarta. Tanggul bersama 17 pulau baru di perairan utara Jakarta itu akan serupa dengan Garuda, lambang negara ini.

Saya juga pernah melihat video desain pembangunan di pulau-pulau reklamasi hasil karya pengembang di laman resmi mereka. Bangunan-bangunan modern akan membuat pulau-pulau baru itu setara dengan kota-kota modern di belahan dunia.

Rapi, tertata, dan canggih. Begitu lah gambaran desain pembangunan di pulau-pulau itu. Apa boleh buat, peradaban kita memang sudah telanjur mengacu pada peradaban barat yang segala sesuatu harus teratur, tertib, rapi, dan canggih. Tidak ada tempat buat orang berpenghasilan rendah di kota yang canggih.

Balik lagi ke soal tanggul raksasa di pesisir utara Jakarta. Pada 2015, CNN Indonesia pernah melansir pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengenai tanggul raksasa itu. Ahok bilang, tanggul raksasa sepanjang 32 kilometer dengan lebar tujuh sampai delapan meter ke arah laut. Proyek pembangunan tanggul raksasa itu diperkirakan menghabiskan biaya sebesar Rp400 miliar.

Ahok juga menjanjikan tanggul itu bakal mencegah banjir. Tanggul akan menahan air laut masuk ke daratan. Tanggul ini juga akan mengurangi ketinggian air terutama ketika banjir di wilayah Jakarta Utara.

Benarkah?

Lembaga Riset asal Belanda, Deltares, membantah pernyataah Ahok. Pada 2014, Deltares melansir sebuah penelitian yang menyatakan pertahanan berupa tanggul besar sepanjang 30 kilometer di pantai utara Jakarta bakal sia-sia mengatasi banjir.

Deltares menyimpulkan, tanggul itu hanya menjeda masuknya air ke daratan. Deltares memperkirakan tanggul besar di Teluk Jakarta itu hanya bakal sanggup menahan air pasang laut selama dua hari. Dalam waktu 48 jam, air akan membanjiri rumah-rumah di Jakarta. Sebanyak satu juta orang bakal menjadi korban banjir.

Bahkan, menurut Deltares, pertahanan semacam ini bakal sia-sia kalau ingin diberlakukan di kota-kota lain. Ketika laut pasang, air akan masuk ke daratan dengan cepat. Tanggul raksasa tidak bakal sanggup menahan serbuan air.

Penurunan tanah

Deltares juga mengungkapkan persoalan utama terkait banjir di Jakarta. Kerentanan wilayah DKI terhadap banjir lantaran aktivitas manusia yang mengeksploitasi air tanah. Penurunan tanah akibat perbuatan manusia ini memiliki pengaruh lebih besar daripada proses alami.

Banyaknya manusia yang beraktivitas di Jakarta membuat perusakan alam menjadi lebih besar. Urbanisasi yang cepat dan tinggi memiliki meningkatkan kerentanan wilayah kota di pesisir terhadap banjir. Kerentanan banjir, yaitu frekuensi, kedalaman genangan dan durasi banjir.

Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia menjadi magnet penduduk dari daerah. Saat ini, Jakarta dihuni oleh sepuluh juta orang. Menurut Deltares, urbanisasi membuat jumlah penduduk Jakarta pada abad 21 ini meningkat drastis dibandingkan populasi pada 1930an yang hanya mencapai setengah juta orang.

Kepadatan penduduk ini berdampak pada penggunaan air tanah. Deltares menyebutkan permukaan tanah di daerah padat penduduk turun hingga dua meter pada kurun tersebut lantaran air tanah dieksploitasi untuk kebutuhan minum.

“Penurunan tanah dan kenaikan permukaan air laut terjadi bersamaan. Keduanya berkontribusi terhadap masalah yang sama. Banjir besar dan lebih lama, serta kedalaman genangan lebih besar dari banjir,” Dr Gilles Erkens, yang memimpin penelitian dari Deltares, kepada BBC, seperti dikutip The Independent pada 29 April 2014.

Deltares pun menyatakan Jakarta bersama kota-kota besar pesisir di Asia seperti Bangkok, Ho Chi Minh City, dan Dhaka, tenggelam lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut karena pemanasan global. Lembaga riset asal Belanda itu mengidentifikasi permukaan tanah kota-kota itu, termasuk Jakarta, turun 10 kali lebih cepat dibandingkan kenaikan air laut.

The independent menggambarkan potensi Jakarta bakal tenggelam dengan sebutan Atlantis di dunia nyata. Atlantis merupakan kota dalam cerita Plato yang tenggelam dalam waktu satu malam.

Erkens dan timnya menyatakan permukaan tanah yang menyebabkan kerentanan banjir ini telah membuat kota-kota pesisir di dunia harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.Mereka memperkirakan biaya keuangan dari kerusakan struktural dan pemeliharaan mencapai satu miliar dolar per tahun.

Biaya pemeliharaan ini meliputi jaringan transportasi, infrastruktur hidrolik seperti tanggul sungai, pintu air, hambatan banjir dan stasiun pompa, sistem pembuangan limbah, bangunan dan pondasi.

Deltares pun mendorong pemerintah di daerah-daerah itu melakukan upaya perbaikan. Erkens berpendapat solusi paling ketat dan terbaik untuk mengatasi permasalahan penurunan permukaan tanah itu berhenti memompa air tanah untuk air minum. Solusi itu memang membuat otoritas di Jakarta harus memutar otak untuk mendapatkan sumber baru air minum.

Tapi, aturan pembatasan eksploitasi air tanah terbukti berhasil menghentikan atau mengurangi penurunan muka tanah di Tokyo. Tokyo mengalami masalah serupa dengan Jakarta. Ketinggian muka tanah di Tokyo turun hingga dua meter sebelum aturan tersebut diperkenalkan.

Erkens menyatakan Venesia juga mengadopsi pendekatan serupa. Sebab, di Venesia, ekstrasi air tanah ini telah memperburuk dampak penurunan muka tanah yang disebabkan oleh proses geologi jangka panjang.

“Tokyo telah melakukan melakukan pembatasan pengambilan air tanah dan penurunan muka tanah pun berhenti atau berkurang. Di Venesia juga demikian. Mereka telah melakukan,” ujar Erkens.

Saat ini, upaya tersebut belum terlihat. Pembangunan gedung-gedung tinggi di Jakarta tidak pernah berhenti. Dari ujung di pantai utara Jakarta, Kemayoran, hingga ke bagian selatan di Kemang. Pembangunan hunian vertikal, perkantoran, dan pusat perbelanjaan yang masif pun masih menjadi daya tarik bagi warga dari luar Jakarta untuk datang dan mewujudkan mimpi.

The following two tabs change content below.
napuspita@gmail.com'

Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.

Comments

comments

napuspita@gmail.com'

About Annelies

Serupa burung hantu yang kerap tidak tidur di malam hari, pecinta kopi, dan hal-hal absurd. Percaya bahwa setan dan malaikat bekerja untuk perusahaan yang sama.