Ilustrasi menyebar kebencian di Internet (Foto: thejournal.ie / Shutterstock)

Bagaimana Internet Membuat Kita Jadi Brengsek…

Ilustrasi menyebar kebencian di Internet (Foto: thejournal.ie / Shutterstock)

BertuturCom – Pertama-tama, mohon maaf untuk kawan-kawan saya yang terhubung liwat facebook. Beberapa waktu ini, saya menelusuri sebagian akun kalian, dan pikiran-pikiran yang kalian tuangkan tahun-tahun belakangan melalui postingan di tetembok atau catatan-catatan (semuanya masih terekam kecuali kalian hapus).

Tujuannya? Nanti saya kasih tahu. Sekarang saya mau menuliskan lain hal dulu.

Mulanya adalah cahaya. Kemudian Tuhan menciptakan dunia dan seisinya. Ia lalu mencerai-beraikan manusia ke seluruh penjuru mata angin, dalam aneka suku, dengan aneka bahasa, punya kebiasaan berbeda, membangun paham yang bertolak belakang, sebagian berperang satu sama lain, lainnya bersekutu.

Sekira 80 ribu tahun setelah kehadirannya, manusia kemudian menemukan internet, tak berapa lama jejaring media sosial. Ia digadang-gadang jadi pelebur. Peroboh bebatasan, dan pemutus demarkasi, penyambung dan penyampai paham, pembuka pikiran.

Manusia boleh jadi pandai menggadang-gadang dan menyusun rencana. Kerap kali, pada akhirnya kecenderungan-kecenderungan milik kita yang luput kita sadari jadi perusak rencana-rencana itu.

Demikianlah kemudian internet malih fungsi, demikianlah akan saya jelaskan di bawah ini hasil penelusuran saya atas kecenderungan sebagian kawan-kawan di media sosial. Jangan khawatir, saya tak akan menyebut nama.

Sebagian besar kawan di antara kawan-kawan mulanya berpikiran terbuka. Mereka menampilkan di tetembok pikiran-pikiran yang tak kaku, dan nampaknya terbuka. Setahun atau dua tahun selepas facebook dan twitter menggejala, masih demikian kecenderungan postingan mereka.

Tapi waktu berjalan, dan alih-alih kian terbuka, sebagian kawan-kawan mulai condong. Seperti jadi corong dari satu golongan paham saja. Ternyata, kendati masing-masing yang saya telusuri punya kawan di facebook dengan berbagai rentang pemahaman dan aliran, yang bersangkutan justru kian saklek pemahamannya. Mengapa demikian? Di sini saya mohon ijin untuk berbicara sedikit teknis.

Ada satu teori yang namanya polarisasi. Kalau kalian perlu tahu siapa yang mempelajari itu teori, salah satunya bernama Cass Sunstein, seorang professor Harvard. Kesimpulan dari teori itu, jika satu orang sudah punya set pemahaman tertentu, semakin ia membicarakan itu pemahaman dengan grup yang satu ide, semakin ekstrim dukungan yang ia berikan atas pemahaman bersangkutan.

Teori itu diwacanakan jauh sebelum media sosial muncul. Yang dilakukan media sosial adalah memperlekas prosesnya terhadap seseorang.

Begini, facebook bekerja tak dengan algoritma yang sepenuhnya acak (saya tahu karena saya mahasiswa ilmu komputer meski IP-nya di bawah standar). Apa yang tampil di laman kawan-kawan adalah hasil bacaan mesin dari postingan kalian, juga postingan-postingan yang kalian “like.” Untuk kasus twitter, yang dibaca adalah akun-akun yang kalian follow, dan cuitan yang kalian cuit balik. Untuk google, yang dibaca algoritma adalah kata kunci yang paling kerap kalian cari.

Dan ketiganya tak bekerja sendiri-sendiri. Misalnya, untuk proyek disain yang saya kerjakan, saya sekali waktu saja membuka sebuah situs produk yang logonya akan saya kerjakan melalui google chrome. Tetiba, keesokan harinya itu barang yang dijual situs bersangkutan muncul dalam iklan di laman facebook.

Dengan begitu, seperti sudah banyak dikupas, media sosial dan internet menjadi semacam echo chamber. Sederhananya, kendati ia membuka kesempatan untuk berkawan dengan banyak manusia dan mengakses banyak ide, internet, khususnya media sosial, sejatinya lebih banyak menampilkan hal-hal yang sedari mula kita sukai dan kita percayai. Dan saat polarisasi distimulasi demikian ligat oleh internet, sebagian orang kemudian jadi garis keras.

Kawan-kawan saya yang mulanya moderat, perlahan mulai jadi liberal garis keras. Kawan saya yang mulanya sederhana saja ketertarikannya pada agama tetiba jadi penjura ISIS/ISIL/IS/DAIS atau apapun hendak kau sebut itu organisasi.

Atau ambil contoh seorang kawan aktivis yang mula-mula mengaku hanya mendukung Joko Widodo karena tak sudi Prabowo sebagai pelanggar HAM jadi presiden. Pikiran itu ia jaga, bahwa ia memilih bukan karena Jokowi sempurna. Tapi rekaman interaksi dia di media sosial kemudian menunjukkan bahwa perlahan, alih-alih memilih Joko Widodo sebagai mitigasi, ia jadi sejenis pemuja. Mau Joko Widodo pipis sembarangan juga sekarang di mata dia jadi hal yang benar.

Contoh belakangan bahwa polarisasi itu semakin runcing bisa kita lihat dari tanggapan atas Ibu Susi menteri laut dan ikan. Netizen, dengan sedikit pengecualian, seakan hanya terpecah jadi dua kubu saja. Dengan Susi atau melawan Susi. Pro perempuan merokok atau pro perempuan berjilbab. Pro sekolah sampai selesai atau pro tak perlu sekolah.

Padahal Susi adalah manusia yang kompleks. Ia bisa disukai dan dibenci sekaligus. Dengan akal sehat, tanpa dorongan media sosial, tak masuk akal mendukung dia sepenuhnya, atau membenci dia sepenuhnya.

Selain algortima yang dijalankan mesin, sistem “like” dan “retweet“, dibantu kecenderungan naluriah manusia juga jadi pendorong polarisasi. Sesuatu yang kita posting atau kicaukan, saat di-like dua puluh orang, misalnya, seakan jadi pembenaran atas pemikiran yang kita tuangkan dengan mengabaikan ratusan kawan lain yang mungkin punya pendapat berbeda. Saat ia kemudian di-share atau dicuitkan ulang, bahkan tahi kucing pun serasa coklat.

Sementara yang kita tuliskan di internet dan media sosial juga rapi terekam. Dari situ, ia menghalangi potensi kita untuk menimbang ulang pendapat atau berubah pikiran. Karena sudah dilihat banyak orang banyak, kita terdorong mencari pembenaran untuk pendapat-pendapat yang kita sampaikan dan terekam di internet. Dan dalam internet, Anda bisa menemukan pembenaran untuk apa saja, untuk ide sekonyol apapun.

Media sosial berpotensi mendorong kita jadi manusia-manusia brengsek yang merasa benar sendiri. Tapi apakah kita harus menutup akun? Buat saya pribadi, itu bukan satu-satunya jalan keluar.

Yang bisa kita lakukan adalah, lebih banyak keluar dan bertemu orang-orang dengan pikiran yang berbeda. Semakin sering kita mengakses media sosial, mestinya semakin banyak kita berkumpul dengan kelompok-kelompok yang berbeda di dunia nyata.

Di media sosial Anda sudah dijejali dengan postingan-postingan yang kebanyakan sejalan dengan pikiran Anda, kemudian di dunia nyata kembali berkumpul dengan manusia-manusia berpemahaman sejenis. Outcome-nya cuma satu, Anda akan jadi jauh lebih tolol. Sekian…

via: blog Fitriyan Zamzami

The following two tabs change content below.
Wartawan; Percaya dengan adanya kehidupan di planet lain.

Latest posts by Fitriyan Zamzami (see all)

Comments

comments