Foto: Jeff Mitchell/FIFA (theguardian.com)

Adu Klaim Juara di Estadio Maracana

BertuturCom – Pertandingan final Piala Dunia 2014 di Estadio Maracana sudah memasuki menit 65. Untuk sementara Jerman unggul tipis 1-0 dari Argentina berkat gol yang diciptakan si kurus Thomas Mueller. 

Argentina sendiri tampak kesulitan mencetak gol penyeimbang. Lionel Messi cs terlihat kesulitan menembus pertahanan der Panzer yang dikawal Mats Hummels. Hasil 1-0 tampaknya tidak akan berubah hingga peluit panjang dibunyikan.

Tiba-tiba situasi dalam stadion gempar. Pasalnya beberapa penonton yang iseng browsing di ponsel sambil nonton bola, membaca berita yang beberapa detik lalu baru di-publish media online Jerman yang berjudul: “Kanselir Jerman: Alhamdulillah, Jerman juara Piala Dunia 2014″.

Kegemparan bertambah karena suasana bench Jerman juga diwarnai euforia berlebihan. Pelatih Joachim Loew yang di beberapa laga sebelumnya terlihat kalem justru saat ini terlihat jejingkrakan bersama para asistennya, tak lupa sambil meneteskan air mata.

Para pemain Argentina yang melihat pemandangan itu, mulai terlihat grogi. Namun pelatih Argentina Alejandro Sabella langsung bereaksi cepat berusaha meredam kepanikan anak-anak asuhnya: Jumpa pers tandingan segera digelar di bench.

Berita pun keluar di media Argentina dengan judul: “Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia 2014″. Bahkan dalam berita tersebut, diunggah foto Sabella dan para asistennya sujud syukur di tepi lapangan.

Sabella beralasan, timnya hanya tinggal menunggu waktu untuk mencetak gol balasan. Mereka juga menganggap pantas menang, walau mereka melaju ke final hanya karena keberuntungan menang adu penalti lawan Belanda.

Selanjutnya, bisa ditebak. Kedua tim terus mengklaim kemenangan ada di kubu mereka. Situasi panas bench kedua tim berpengaruh terhadap situasi tribun penonton yang mulai memanas karena saling hujat.

Sebenarnya bukan tanpa alasan bagi Jerman untuk segera mengklaim kemenangan meski laga belum usai. Sebab mereka percaya dengan permainan berantakan Argentina, keunggulan 1-0 akan sulit dikejar.

Mereka juga memutuskan segera ‘mengunci’ kemenangan ini demi menjaga hasil akhir dari kecurangan. Mengingat mereka tampil di Brasil yang merupakan tetangga Argentina, dikawatirkan ada campur tangan Brasil di laga ini.

“Hanya kecurangan yang bisa mengalahkan Jerman,” slogan pun diusung oleh kubu Jerman (dan ini slogan yang sudah diusung sebelum laga). Optimisme kubu Jerman bukan tanpa alasan. Di atas kertas prediksi, mereka diunggulkan. Apalagi mereka juga terhitung dua kali menang telak di Piala Dunia 2014 (tekuk Brasil 7-1 dan kalahkan Portugal 4-0).

Tapi kubu Argentina juga tak mau kalah dan terus melakukan propaganda yang sama bahwa mereka punya kesempatan untuk menang. Harga diri mereka terusik setelah Jerman mengklaim dini status juara meski laga masih menyisakan waktu beberapa menit.

Kini semua mata menuju kepada wasit yang memimpin laga. Kubu Jerman terus mengawal kepemimpinan wasit sambil sekali melirik penuh curiga kepada kubu lawan. Dan kubu Argentina juga melakukan hal yang sama.

Pertandingan yang tinggal menyisakan waktu beberapa menit terasa panjang. Permainan kedua tim berantakan dan tidak cantik lagi, saling jegal dan diving. Sementara fans kedua tim saling curiga, saling hujat dan menelanjangi kelemahan masing-masing tim lawan.

Situasi stadion memanas dan berpotensi chaos. Fans kedua kubu sudah menyiapkan parang dan celurit, siap mengamuk jika hasil akhir tidak sesuai harapan mereka. Suasana juga diperkeruh dengan sikap fans tim-tim Eropa yang beraliansi dengan Jerman dan fans tim-tim latin yang beraliansi dengan Argentina.

Laga pamungkas Piala Dunia yang seharusnya menjadi puncak pesta sepakbola akbar pun berubah menjadi acara komedi televisi murahan yang mempertontonkan lelucon slapstik nan kasar dan sindiran bernada satir.

Tinggal para pecinta sepakbola Indonesia yang bingung harus nonton tayangan menarik apalagi buat menemani mereka sahur. Terpaksa mereka pun nonton YKS sambil menunggu imsak…

The following two tabs change content below.

Zaky Al-Yamani

Penggemar Soneta dalam secangkir kopi

Latest posts by Zaky Al-Yamani (see all)

Comments

comments